Surabaya, PANDANGANRAKYAT.COM – Perekonomian Jawa Timur pada triwulan I tahun 2026 menunjukkan kinerja yang semakin kuat. Ekonomi Jatim tercatat tumbuh 5,96 persen (year on year/yoy), lebih tinggi dibandingkan periode sebelumnya, ditopang oleh peningkatan konsumsi rumah tangga, investasi, dan konsumsi pemerintah di tengah perlambatan ekspor.
Hal tersebut disampaikan Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Timur, Ibrahim, dalam acara Media Briefing Triwulan II 2026 yang digelar di Kantor OJK Surabaya, Senin (22/6/2026).
Ibrahim menjelaskan, pertumbuhan ekonomi Jawa Timur pada awal tahun 2026 didorong oleh meningkatnya aktivitas konsumsi masyarakat yang bertepatan dengan sejumlah momentum penting, seperti perayaan Imlek, Nyepi, Ramadan, hingga Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Idulfitri 2026.
“Konsumsi rumah tangga menjadi salah satu penopang utama pertumbuhan ekonomi Jawa Timur pada triwulan I 2026. Aktivitas masyarakat yang meningkat selama berbagai perayaan keagamaan memberikan dampak positif terhadap sektor perdagangan dan jasa,” ujarnya.
Selain konsumsi rumah tangga, investasi juga menunjukkan akselerasi yang cukup kuat. Hal ini didukung oleh pembangunan Sekolah Rakyat, revitalisasi berbagai fasilitas pendidikan, pembangunan infrastruktur jalan, hingga meningkatnya impor barang modal yang menunjang aktivitas produksi dan pembangunan.
Di sisi lain, konsumsi pemerintah juga mengalami peningkatan. Kinerja tersebut ditopang oleh belanja pegawai serta perbaikan belanja barang dan jasa, termasuk implementasi Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang mulai memberikan dampak terhadap aktivitas ekonomi daerah.
Meski demikian, laju pertumbuhan ekonomi Jawa Timur masih menghadapi tantangan dari sektor eksternal. Pertumbuhan yang lebih tinggi tertahan oleh perlambatan ekspor luar negeri, terutama pada komoditas emas perhiasan, tembaga, kayu, dan produk kimia.
Dari sisi lapangan usaha (LU), pertumbuhan ekonomi Jawa Timur ditopang oleh sejumlah sektor utama. Lapangan Usaha Perdagangan serta Akomodasi dan Makan Minum mengalami peningkatan seiring tingginya aktivitas konsumsi masyarakat selama Ramadan, Imlek, Nyepi, dan Idulfitri.
Pelaksanaan Program MBG juga turut memberikan dampak positif terhadap kinerja sektor akomodasi dan makan minum, terutama dalam mendorong permintaan bahan pangan dan jasa penyediaan makanan.
Sementara itu, sektor pertanian mencatatkan pertumbuhan yang lebih baik didukung oleh meningkatnya produksi padi saat panen raya, kenaikan produksi daging dan telur ayam untuk memenuhi kebutuhan Program MBG, serta meningkatnya produksi kayu bulat.
Sektor konstruksi juga menunjukkan akselerasi yang kuat sejalan dengan pelaksanaan berbagai proyek pembangunan, mulai dari pembangunan Sekolah Rakyat, revitalisasi sarana pendidikan, hingga pembangunan dan perbaikan infrastruktur jalan di berbagai daerah.
Lebih lanjut, Ibrahim menyoroti potensi besar Jawa Timur sebagai salah satu motor penggerak ekonomi nasional, khususnya di sektor perkebunan. Jawa Timur memiliki posisi strategis sebagai produsen utama kopi dan kakao di Pulau Jawa dengan kapasitas produksi yang besar serta kinerja ekspor yang terus berkembang.
Potensi tersebut tercermin dari besarnya pangsa ekspor produk kopi dalam bentuk green bean, keberhasilan hilirisasi kakao melalui produksi mentega cokelat, serta peluang pengembangan produk bernilai tambah berupa ekstrak maupun konsentrat pada komoditas teh.
Menurutnya, penguatan hilirisasi dan peningkatan nilai tambah komoditas unggulan daerah menjadi salah satu strategi penting untuk menjaga daya saing ekonomi Jawa Timur di tengah dinamika ekonomi global.
Dengan struktur ekonomi yang kuat, dukungan konsumsi domestik, investasi yang terus tumbuh, serta potensi besar sektor pertanian dan perkebunan, Jawa Timur optimistis mampu menjaga momentum pertumbuhan ekonomi sepanjang tahun 2026 dan tetap menjadi salah satu kontributor utama perekonomian nasional. ham

