Site icon Pandangan Rakyat

Aktivis Muda NU Dukung Gagasan Gus Yusuf Perkuat Pendampingan Pesantren

Jakarta, PANDANGANRAKYAT.COM – Pengasuh Pondok Pesantren Asrama Perguruan Islam (API) Tegalrejo, Magelang, KH Muhammad Yusuf Chudlori atau Gus Yusuf, menilai Nahdlatul Ulama perlu memperkuat kembali perannya dalam mendampingi pesantren yang menghadapi persoalan pendidikan, infrastruktur, hingga stigma negatif.

Hal itu disampaikan Gus Yusuf dalam diskusi bertema “NU Masa Depan & Masa Depan NU” yang menghadirkan sejumlah tokoh, di antaranya Masykuri Abdillah, Hery Haryanto Azumy, dan Muhammad Yusuf Chudlori, pada Senin (13/7/2026) di Kompleks Ligamas, Pancoran, Jakarta Selatan.

Gus Yusuf yang menjadi salah satu calon Ketua Umum PBNU, mengatakan organisasi tidak cukup hadir dalam forum seremonial. NU, menurut dia, harus mampu memberikan pendampingan nyata melalui penguatan tata kelola, kemitraan, dan program yang berdampak langsung bagi pesantren.

Dalam forum diskusi menjelang Muktamar NU, Gus Yusuf mengatakan pesantren saat ini menghadapi beragam tantangan. Persoalan itu antara lain menurunnya minat masyarakat, stigma yang muncul akibat sejumlah kasus yang menyeret nama pesantren, serta keterbatasan infrastruktur.

Di tengah berbagai persoalan tersebut, ia menilai kehadiran organisasi belum dirasakan secara optimal oleh pesantren.

“Pesantren merasa sendirian menghadapi berbagai macam ujian ini. NU tidak pernah hadir, enggak pernah hadir mendampingi pesantren,” ujarnya.

Menurut Gus Yusuf, penguatan pesantren membutuhkan jejaring kerja sama yang sehat dengan berbagai pihak. Ia mencontohkan pengalamannya membangun rumah sakit melalui kemitraan dengan pihak swasta sebagai salah satu bentuk kolaborasi yang dapat memberikan manfaat nyata.

Namun, ia menekankan bahwa kerja sama dengan pihak luar harus dibangun dengan menjaga integritas dan tidak boleh menjadi ruang untuk menitipkan kepentingan pribadi.

“Tolonglah kalau kita pengin kerja sama dengan pihak ketiga, pihak luar, apalagi dengan teman-teman bisnis, ya jenengan harus bisa dijaga. Jangan durung-durung arep gawe rumah sakit wis ono sing saya titip materialnya ya, nanti ngambil saya, saya suplai anunya ya, lah fee-nya saya bagaimana. Ora usah ngurus kuilah,” tegasnya.

Pandangan tersebut dinilai relevan dengan kebutuhan pesantren saat ini oleh Aktivis Muda NU, Aden Farih. Menurut Aden, berbagai persoalan pesantren tidak cukup diselesaikan oleh masing-masing lembaga, tetapi membutuhkan organisasi yang hadir untuk mendampingi sekaligus membuka ruang kolaborasi.

“Saya tentu masih sangat muda dan masih harus banyak belajar. Tapi kalau diizinkan menyampaikan pandangan, saya melihat selama ini pesantren kerap menghadapi berbagai persoalan, mulai dari stigma negatif, persoalan infrastruktur, sampai tantangan pendidikan. Menurut saya, organisasi harus menjadi rumah yang mendampingi dan ikut mencari solusi, bukan hanya hadir ketika ada agenda seremonial,” kata Aden.

Aden juga menilai penguatan peran organisasi tidak dapat dipisahkan dari tata kelola dan integritas. Menurut dia, kepercayaan merupakan modal utama untuk membangun kerja sama dengan berbagai pihak.

“Menurut saya, kuncinya ada di integritas. Jangan sejak awal setiap kerja sama sudah dihitung untung-ruginya atau ada kepentingan pribadi yang ingin dititipkan. Kalau kepercayaan terjaga, kolaborasi untuk memperkuat pesantren akan datang dengan sendirinya,” ujarnya.

Karena itu, Aden menilai penguatan tata kelola dan pendampingan pesantren perlu ditempatkan sebagai bagian dari agenda NU ke depan.

Kolaborasi di bidang pendidikan, kesehatan, dan ekonomi, menurut dia, akan lebih mudah dibangun ketika organisasi mampu menjaga kepercayaan dan memastikan setiap kerja sama benar-benar diarahkan untuk kepentingan pesantren dan warga Nahdliyin.

Exit mobile version