Surabaya, PANDANGANRAKYAT.COM – Arus lalu lintas di kawasan frontage road Jalan Ahmad Yani Surabaya terganggu akibat aksi unjuk rasa ratusan sopir angkutan kota (angkot), Rabu (22/7/2026).
Para sopir angkot di kawasan Sidoarjo khususnya jalur HN yaitu Krian – Waru – Bungurasih (Terminal Purabaya) menggelar demonstrasi di depan Kantor Dinas Perhubungan (Dishub) Jawa Timur.
Mereka menyuarakan penolakan terhadap sistem transit Bus Trans Jatim di Medaeng yang dinilai berdampak langsung pada pendapatan angkot.
Ratusan angkot diparkir memanjang di badan jalan sehingga hanya menyisakan satu lajur yang dapat dilintasi kendaraan.
Kondisi tersebut menyebabkan antrean kendaraan mengular di sepanjang frontage road Ahmad Yani.
Dalam aksinya, para sopir membawa tuntutan agar Pemerintah Provinsi Jawa Timur menghentikan sistem transit Bus Trans Jatim Koridor 1 dan Koridor 5 di kawasan Medaeng, karena dianggap berdampak langsung dengan trayek angkot konvensional.
Diketahui Koridor 1 Trans Jatim melayani rute Sidoarjo–Surabaya–Gresik yang menghubungkan wilayah Gerbangkertosusila.
Sedangkan Koridor 5 melayani rute Surabaya–Bangkalan melalui Terminal Purabaya hingga Terminal Bangkalan.
Salah satu perwakilan sopir angkot jalur HN, Abdul Manan, menegaskan aksi tersebut bukan mempersoalkan keberadaan halte Trans Jatim, melainkan lokasi transit Koridor 1 dan Koridor 5.
“Tuntutan kami Trans Jatim Koridor 1 dan Koridor 5 tidak boleh transit di situ. Kami tidak mempermasalahkan halte. Masalahnya adalah transitnya Trans Jatim Koridor 1 dan Koridor 5,” katanya
Menurutnya, keberadaan titik transit tersebut membuat jumlah penumpang angkot menurun drastis karena masyarakat beralih menggunakan layanan Trans Jatim.
“Transitnya Koridor 1 dan Koridor 5 sangat berpengaruh pada jalur kita. Sangat drastis. Bahkan tak hanya angkot HN, tapi juga bis mini serta Bison juga terdampak,” ujarnya.
Abdul Manan menegaskan angkutan kota juga merupakan bagian dari pelayanan transportasi publik sehingga pemerintah diminta memperhatikan keberlangsungan angkutan konvensional.
“Angkutan kita juga layanan masyarakat. Jangan hanya menyebut layanan masyarakat itu Trans Jatim saja,” katanya.
Ia berharap pemerintah segera menghadirkan solusi yang tidak hanya mengembangkan transportasi massal modern, tetapi juga melindungi angkutan umum konvensional yang masih menjadi mata pencaharian ribuan sopir. ham

