Malang, PANDANGANRAKYAT.COM – Dua helikopter yang membantu operasi water bombing telah mendarat di Ranupani wilayah Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Satu heli bersiap melakukan operasi pemadaman jalur udara.
Dua helikopter tiba di kawasan Ranupani, Jumat (7/8/2026), sekitar pukul 10.00 WIB. Ranupani menjadi lokasi pendaratan pertama sekaligus persiapan untuk pengambilan air sebelum menuju wilayah kebakaran di kaldera Gunung Bromo.
Dua helikopter yang didatangkan untuk mendukung operasi water bombing adalah milik TNI AL dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).
Rudijanta mengatakan, water bombing atau upaya pemadaman melalui udara menjadi harapan terakhir dalam pengendalian titik kebakaran di wilayah lereng perbukitan.
Selama ini upaya pemadaman darat cukup mengalami kesulitan menjangkau lokasi titik api, karena medan cukup terjal.
“Kalau di lereng dan tebing-tebing kan harus nunggu heli memang, karena tidak akan terjangkau oleh orang. Helikopter ini bukan sekadar untuk mempercepat, tetapi juga memastikan titik api di tebing-tebing itu benar-benar mati. Kalau tidak pakai alat itu, tidak mungkin terjangkau manusia,” ujarnya.
Rudijanta menyebut, titik api pada Jumat pagi ini sejatinya relatif mengecil dibandingkan hari-hari sebelumnya.
Kendati demikian, beberapa vegetasi khas seperti cemara gunung, semak belukar, hingga akasia yang berada di lereng-lereng curam masih terus terbakar dan berpotensi meluas jika tidak segera ditangani.
“Pagi ini, api tidak begitu besar. Tetapi harus segera ditangani agar tidak meluas,” tegasnya.
Sementara ditanya soal dampak dari kebakaran yang telah memasuki hari kelima ini, Rudijanta mengungkapkan, setidaknya 120 hektare lahan hangus terbakar akibat kebakaran yang terjadi.
“Sudah ada 120-an hektare area yang terdampak,” pungkasnya.
Sementara itu, penyebab kebakaran diduga kuat karena ulah manusia.
“Kalau dugaan kita memang karena dari atas (sumber api). Dari atas punggungan (perbukitan) dari Bantengan ke arah Argosari,” ungkap Rudijanta saat dihubungi melalui sambungan telpon, Jumat (7/8/2026), pagi.
Menurut Rudijanta, wilayah diduga menjadi sumber api selama ini diketahui sulit dijangkau. Kecuali, hanya masyarakat setempat yang akan menuju Jantur-Argosari karena menjadikannya sebagai jalur lintasan.
Dengan begitu, Rudijanta mengatakan sangat minim dugaan sumber api diakibatkan karena faktor cuaca ataupun alam.
“Kalau pastinya dari manusia. Bukan dari alam,” tegasnya.
Rudijanta menambahkan, kondisi cuaca saat ini turut mendorong kebakaran semakin bisa meluas. Namun, bicara terkait dugaan sumber api, sekali lagi pihaknya memastikan bukan karena faktor cuaca. ham

