Site icon Pandangan Rakyat

Harga Daging Sapi Terus Naik, Pedagang di Lamongan Berhenti Jualan

Lamongan, PANDANGANRAKYAT.COM – Kenaikan harga daging sapi yang terus terjadi di Lamongan mulai dirasakan pelaku usaha kuliner. Pedagang bakso mengaku biaya operasional membengkak, sementara mereka juga dihadapkan pada dilema menaikkan harga jual atau mempertahankan pelanggan.

Salah satu pedagang yang merasakan dampaknya adalah Khoirul, pemilik Bakso Unggulan Cak Suin di Kelurahan Jetis, Kecamatan Lamongan. Menurutnya, lonjakan harga daging membuat keseimbangan antara pemasukan dan pengeluaran usahanya terganggu.

“Sangat terdampak sekali. Pendapatan dan pengeluaran menjadi tidak seimbang. Masalahnya, kalau daging naik, harga kebutuhan yang lain-lain juga biasanya ikut naik. Otomatis kami sebagai pedagang kecil, terutama yang membuka warung, jadi bingung,” kata Khoirul kepada wartawan, Kamis (16/7/2026).

Meski harga bahan baku terus meningkat, Khoirul mengaku belum mengurangi jumlah produksi bakso. Namun, ia harus lebih cermat mengatur modal usaha karena biaya belanja terus bertambah.

Sementara itu, pedagang daging sapi di Lamongan memilih menghentikan sementara aktivitas berjualan. Langkah itu diambil sebagai respons atas kenaikan harga daging sapi yang kembali terjadi dan dinilai semakin membebani pedagang maupun konsumen.

Ketua Paguyuban Pedagang Daging Sapi Lamongan, Bagus Budi Raharjo mengatakan, keputusan tersebut diambil setelah para pedagang menggelar pertemuan menyusul pengumuman kenaikan harga dari pengepul sapi hidup pada Minggu (12/7/2026). Libur jualan daging sapi ini, ungkap Bagus, akan digelar selama 3 hari demi untuk meredam gejolak harga di pasaran.

“Senin kemarin para pedagang berkumpul atas nama paguyuban untuk berdiskusi mencari jalan keluar. Di tengah kekhawatiran karena banyak pelanggan belum siap dan komplain, kami sepakat libur tiga hari supaya ada ketenangan secara psikologis,” kata Bagus kepada wartawan, Kamis (16/7/2026).

Menurut Bagus, keputusan meliburkan aktivitas berjualan bukan semata-mata karena pasokan berkurang, tetapi juga untuk meredam gejolak di pasar. Selama ini setiap kali harga daging dinaikkan mengikuti harga dari jagal, banyak pelanggan yang mengeluhkan kenaikan tersebut bahkan membatalkan pembelian.

“Kenaikan sampai lima kali dalam setengah tahun ini baru pertama kali kami alami dalam sekitar 10 tahun terakhir,” ujarnya.

Ia menjelaskan, harga daging sapi terus mengalami kenaikan sejak awal tahun. Pada awal 2026, harga karkas di tingkat jagal masih berada di kisaran Rp 110 ribu per kilogram. Namun kini telah mencapai Rp 130 ribu per kilogram, sehingga harga daging di tingkat eceran menembus Rp 140 ribu hingga Rp 150 ribu per kilogram.

Aksi libur berjualan tersebut diikuti sekitar 18 hingga 19 pedagang yang berasal dari tiga pasar di Kecamatan Lamongan, yakni Pasar Sidoharjo, Pasar Ikan Lamongan, dan Pasar Made.

Akibat menurunnya permintaan, omzet pedagang ikut tergerus. Paguyuban mencatat penurunan pendapatan pedagang berkisar 30 hingga 40 persen dibandingkan saat harga daging masih stabil.

Para pedagang berharap pemerintah daerah segera mengambil langkah untuk menjaga ketersediaan pasokan sapi dan menstabilkan harga di pasaran. Menurut mereka, stabilitas harga menjadi faktor penting agar pedagang dapat terus berjualan tanpa khawatir kehilangan pelanggan akibat kenaikan harga yang berulang. ham

Exit mobile version