Ponorogo, PANDANGANRAKYAT.COM – Peternak ayam petelur di Kabupaten Ponorogo tengah menghadapi tekanan berat akibat anjloknya harga telur dalam dua pekan terakhir.
Harga telur di tingkat peternak kini hanya berkisar Rp18 ribu per kilogram dari kandang.
Harga tersebut diklaim, jauh di bawah harga pokok produksi maupun Harga Acuan Pembelian (HAP) pemerintah.
Kondisi ini membuat peternak terus merugi dan mengkhawatirkan ratusan kandang ayam petelur terancam kosong apabila harga tak kunjung membaik.
Pun diperparah dengan melonjaknya biaya produksi akibat tingginya harga pakan serta kenaikan ongkos distribusi pascakenaikan harga BBM.
Hal ini membuat ratusan peternak ayam petelur terancam gulung tikar jika tidak segera mendapat solusi.
“Harga sekarang di kandang Rp 18 ribu per kilogram. Padahal HPP (Harga Pokok Produksi) mencapai Rp 24.500 per kilogram,” ungkap anggota Asosiasi Peternak Ayam Petelur Ponorogo, Ahmad Sarbini, Sabtu (4/7/2026):
Sehingga, jelas Sarbini—sapaan akrab Ahmad Sarbini, peternak terus menanggung kerugian akibat harga jual yang tidak sebanding dengan biaya produksi.
“Kalau ingin tidak rugi, minimal harga telur di tingkat peternak harus Rp24.500 per kilogram. Sekarang harganya jauh di bawah itu,” tegasnya.
Harga Pokok Produksi (HPP) yang tinggi dipicu tingginya harga pakan. Walaupun, jelas dia, telah digelontorkan dengan jagung SPHP. Namun harga konsentrat yang setiap pekan naik.
“Pemerintah perlu menghadirkan kebijakan yang mampu menyeimbangkan sektor pertanian dan peternakan agar keduanya sama-sama memperoleh keuntungan,” terangnya
Sarbini mengklaim jika dibiarkan tanpa campur tangan pemerintah, dua pekan lagi banyak peternak yang mengosongkan kandang.
“Saya pastikan ratusan peternak ayam petelur akan berduyun-duyun mengosongkan kandangnya. Sekarang saja sudah ada beberapa peternak yang mulai berhenti karena biaya pakan tinggi, sementara harga jual terus turun,” katanya.
Sementara itu, pedagang sembako, Tobing, mengatakan harga telur di tingkat pedagang saat ini berkisar Rp19.000 hingga Rp20.000 per kilogram. Harga tersebut lebih rendah dibandingkan beberapa pekan sebelumnya.
Namun, harga telur yang anjlok tidak serta merta membuat telur di kiosnya langsung laku. Lantaran pembelian diklaim lesu.
“Kalau dari peternak tentu lebih murah lagi. Keuntungan kami juga tipis karena meski harga turun, permintaan masyarakat juga sedang lesu. Kami harap harganya bisa membaik, dulu pernah Rp26.000, bahkan pernah juga sampai Rp30.000,” pungkasnya. ham

