Surabaya, PANDANGANRAKYAT.COM – Universitas Negeri Surabaya (Unesa) menyiapkan beasiswa bagi adik Linda Ayu Tivani, mahasiswi yang meninggal dunia sebelum mengikuti Wisuda ke-120, sebagai bentuk kepedulian kepada keluarga dan penghargaan atas perjuangan akademiknya.
“Kami menyampaikan duka cita yang mendalam atas berpulangnya salah satu mahasiswi kami. Hari ini keluarganya hadir mewakili untuk menerima bukti kelulusan yang menjadi hasil perjuangan almarhumah selama menempuh pendidikan di Unesa,” ujar Rektor Unesa Prof Dr Nurhasan, MKes, di Surabaya, Kamis (25/6).
Nurhasan mengatakan adik Linda, Carolina Anjelin Valeta (16), yang saat ini duduk di kelas XI sekolah menengah atas (SMA), akan memperoleh beasiswa untuk melanjutkan pendidikan di Unesa setelah lulus sekolah.
“Nanti adiknya kami beri beasiswa untuk melanjutkan studi di Unesa setelah lulus sekolah. Kami berharap ia bisa meneruskan cita-cita dan semangat kakaknya dalam menempuh pendidikan,” kata Nurhasan.
Suasana haru mewarnai Wisuda ke-120 Unesa saat Kartiwi, warga Kandangan, Kabupaten Kediri, hadir mewakili putrinya, Linda Ayu Tivani (22), untuk menerima ijazah dan bukti kelulusan.Linda berhasil menuntaskan pendidikannya meski harus berjuang melawan penyakit yang dideritanya dalam beberapa bulan terakhir sebelum meninggal dunia pada akhir Mei 2026.
Kartiwi menuturkan penyakit Linda bermula dari batuk berkepanjangan. Hasil pemeriksaan rontgen menunjukkan adanya cairan di paru-paru, sehingga putrinya harus menjalani perawatan intensif di rumah sakit.
“Setelah rontgen, paru-parunya sudah memutih sebelah. Dokter bilang ada cairan yang harus diambil. Sore hari setelah ambil hasil rontgen, langsung opname,” ujarnya.
Meski telah menjalani perawatan, kondisi Linda tidak kunjung membaik. Pemeriksaan lanjutan menunjukkan cairan kembali memenuhi paru-parunya hingga dokter harus melakukan tindakan operasi.
“Dokternya sampai bilang cairannya kok banyak sekali. Biasanya tiga sampai empat liter, ini kurang lebih enam liter. Saya juga kaget karena anak saya tidak pernah mengeluh sakit,” ujarnya.
Menurut Kartiwi, Linda tetap berupaya menyelesaikan kuliahnya meski kondisi kesehatannya terus menurun, karena khawatir kehilangan beasiswa yang diterimanya.
“Saya suruh ambil cuti saja karena badannya sakit. Tapi, dia tidak mau. Katanya takut beasiswanya hilang. Saya bilang tidak apa-apa, nanti dicari uang untuk bayar uang kuliah tunggal (UKT), tapi dia tetap tidak mau,” katanya.
Setelah sempat menunjukkan kondisi yang membaik, kesehatan Linda kembali menurun hingga akhirnya meninggal dunia pada akhir Mei lalu.Kartiwi mengaku perhatian yang diberikan Unesa menjadi penghiburan bagi keluarganya di tengah duka yang masih dirasakan. ham

