Mojokerto – Pandanganrakyat.com – Dunia pendidikan terus mengalami disrupsi dan perkembangan yang sangat pesat. Mulai dari pergeseran paradigma belajar hingga digitalisasi yang menuntut para pendidik untuk terus berinovasi. Di tengah tantangan zaman ini, Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) Kota Mojokerto memiliki sosok pemimpin yang visioner, yaitu Dr. Benny Soenarko, S.Pd.I., M.Pd. Beliau dikenal bukan sekadar sebagai pemangku kebijakan struktural, melainkan sebagai sosok pemimpin yang adaptif, transformatif, dan sangat peka terhadap dinamika era kekinian.

Memadukan Nilai Salaf dan Tantangan Modern

Sebagai seorang akademisi sekaligus praktisi pendidikan dengan gelar akademik yang komprehensif (Sarjana Pendidikan Islam, Magister Pendidikan, dan Doktor), Dr. Benny Soenarko memahami betul bagaimana memadukan dua kutub penting dalam pendidikan: pelestarian nilai-nilai luhur kepesantrenan (Ahlussunnah wal Jama’ah an-Nahdliyyah) dan keharusan mengadopsi teknologi serta metodologi pembelajaran modern.

Sikap adaptifnya terlihat dari bagaimana beliau merespons perubahan kurikulum dan kebutuhan digitalisasi sekolah. Di bawah arahannya, guru-guru NU di Kota Mojokerto tidak hanya didorong untuk menjadi pendidik yang menguasai ilmu agama dan materi pelajaran, tetapi juga harus melek literasi digital. Baginya, guru NU tidak boleh gagap teknologi; mereka harus berada di garda terdepan dalam memanfaatkan teknologi untuk kebaikan pendidikan.

Kepemimpinan Transformatif yang Mengakar ke Bawah

Gaya kepemimpinan transformatif Dr. Benny Soenarko tercermin dari pendekatannya yang memberdayakan (empowering). Beliau tidak berjarak dengan para anggotanya. Dalam berbagai kesempatan, pendekatan beliau yang humanis, santai, namun sarat gagasan membuat program-program Pergunu mudah diterima oleh para guru dari berbagai jenjang pendidikan.

Beliau sering kali menginisiasi ruang-ruang diskusi, pelatihan peningkatan kompetensi (upskilling), dan forum-forum kebangsaan yang dikemas dengan gaya kekinian. Hal ini membuat Pergunu Kota Mojokerto terasa lebih segar, dinamis, dan tidak kaku. Transformasi yang ia bawa bukan sekadar pada tataran administratif, melainkan pada perubahan mindset (pola pikir) para guru NU agar lebih terbuka, kritis, dan inovatif.

Dekat dengan Komunitas dan Membumi

Meskipun menyandang gelar akademik tertinggi dan memegang tampuk pimpinan, Dr. Benny tetaplah sosok yang membumi. Ia aktif bersosialisasi dan menjaga tali silaturahmi dengan berbagai kalangan, baik di lingkungan pendidikan formal, pesantren, maupun komunitas alumni (seperti keaktifannya dalam paguyuban/alumni yang sering mencerminkan semangat persaudaraan).

Karakteristik kepemimpinannya yang luwes ini membuat beliau mampu menjadi “jembatan” antara generasi guru senior dengan guru-guru muda milenial dan Gen Z di lingkungan Nahdlatul Ulama. Ia memahami bahwa pendekatan kepada guru muda membutuhkan bahasa dan wadah yang berbeda, sehingga kaderisasi di dalam tubuh Pergunu Kota Mojokerto dapat berjalan dengan mulus.

Harapan untuk Pendidikan Kota Mojokerto

Kehadiran Dr. Benny Soenarko, S.Pd.I., M.Pd. di pucuk pimpinan cabang Pergunu Kota Mojokerto memberikan angin segar bagi kemajuan pendidikan, khususnya di lingkungan Nahdlatul Ulama. Melalui visi adaptif dan langkah transformatifnya, beliau sedang meletakkan fondasi yang kuat agar guru-guru NU tidak hanya siap menghadapi masa depan, tetapi juga mampu menjadi kreator dan inovator peradaban di era kekinian.

Sosoknya menjadi bukti bahwa dengan kepemimpinan yang tepat, organisasi guru yang berakar pada tradisi dapat bertransformasi menjadi kekuatan modern yang menginspirasi.