Jakarta, PANDANGANRAKYAT.COM – Industri perhotelan menikmati peningkatan kinerja selama periode libur sekolah 2026. Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) mencatat tingkat okupansi hotel meningkat sekitar 20% hingga 30% dibandingkan hari biasa atau periode normal.
Sekretaris Jenderal PHRI Maulana Yusran mengatakan, libur sekolah tahun ini diperkirakan mampu mendorong pendapatan dan tingkat okupansi hotel lebih baik dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
“Kenapa saya katakan lebih baik, karena memang kalau kita perhatikan, impact-nya ke beberapa daerah tujuan wisata seperti di Bali, beberapa daerah di Pulau Jawa dan Sumatra, rata-rata tingkat okupansinya sekitar 70% hingga 80%. Bahkan ada yang bisa dapat di atas 80%,” jelasnya, Rabu (8/7/2026).
Menurut PHRI, terdapat sejumlah faktor yang menopang kenaikan okupansi hotel pada musim liburan kali ini, meskipun daya beli masyarakat belum sepenuhnya pulih.
Salah satu pendorongnya adalah pelemahan nilai tukar rupiah yang membuat sebagian masyarakat memilih berwisata di dalam negeri daripada ke luar negeri.
“Kami melihatnya, adanya pengaruh kurs rupiah yang tertekan dengan mata uang asing, membuat banyak orang lebih memilih berwisata di Indonesia saja. Jadi, pergerakan pada periode libur sekolah kali ini banyak terjadi antar lintas provinsi saja,” terang Maulana.
Selain itu, tingginya harga tiket pesawat tidak serta-merta mengurangi minat masyarakat untuk bepergian. PHRI melihat wisatawan domestik tetap melakukan perjalanan, terutama ke destinasi yang dapat dijangkau melalui jalur darat.
“Kalau di Pulau Jawa kan infrastrukturnya bagus, jadi pilihan transportasi daratnya banyak. Di Sumatra pun, dari Pulau Jawa ke Sumatra juga masih ada alternatif jalur darat,” ungkap Maulana.
Maulana menilai tingkat okupansi hotel yang mencapai 70% hingga 80% selama libur sekolah merupakan peningkatan yang cukup signifikan dibandingkan periode normal yang hanya berada di kisaran 40% hingga 50%.
Ia menjelaskan, rendahnya okupansi pada hari-hari biasa masih dipengaruhi kebijakan efisiensi anggaran pemerintah yang berdampak pada berkurangnya kegiatan pertemuan di hotel.
“Jadi kalau kondisi sekarang, kita tidak bisa memungkiri bahwa market terbesar dari hotel itu adalah korporasi khususnya dari pemerintah. Kontribusinya cukup besar terhadap revenue, bisa mencapai 60% sampai 80%,” ujar Maulana.
Untuk memanfaatkan momentum liburan, pelaku usaha perhotelan telah menerapkan berbagai strategi, termasuk menghadirkan fasilitas dan layanan tambahan guna menarik lebih banyak tamu. Namun, menurut Maulana, peningkatan okupansi tahun ini lebih banyak didorong oleh meningkatnya daya tarik destinasi wisata.
“Peningkatan lebih didorong oleh daya tarik destinasinya dulu. Itu yang terbesar. Karena hotel-hotel di perkotaan juga mengalami peningkatan okupansi, tidak hanya di hotel destinasi yang ada fasilitas tambahan seperti atraksi saja,” ujarnya.
Di sisi lain, pasar korporasi dan pemerintah mulai kembali menggelar pertemuan di hotel, terutama pada kuartal II dan kuartal III 2026. Kondisi tersebut menciptakan dua sumber pendapatan bagi industri perhotelan.
Wisatawan yang memanfaatkan libur sekolah berkontribusi terhadap penjualan kamar, sementara kegiatan korporasi dan pemerintah mendorong pendapatan dari penjualan makanan dan minuman (food & beverage) melalui penyelenggaraan rapat dan pertemuan.
“Jadi, sudah pasti kami melakukan strategi karena kami berharap dapat memanfaatkan momentum libur sekolah ini. Walaupun dari sisi revenue, tentu tetap berbeda jika dibanding tahun-tahun sebelumnya saat pemerintah belum melakukan efisiensi,” tandasnya. ham

