Banyuwangi, PANDANGANRAKYAT.COM – Layanan kapal cepat rute Banyuwangi-Denpasar resmi berhenti beroperasi mulai awal Juli 2026.
Berakhirnya layanan yang memangkas waktu tempuh perjalanan antara Jawa dan Bali itu membuat masyarakat serta wisatawan kembali bergantung pada moda transportasi alternatif.
Keberadaan kapal cepat sebelumnya menjadi pilihan bagi penumpang yang menginginkan perjalanan lebih singkat menuju Bali tanpa harus melalui jalur penyeberangan konvensional.
Namun, setelah hampir satu tahun melayani rute tersebut, operasional kapal resmi dihentikan. Meski permintaan penumpang disebut masih cukup baik, kondisi perairan yang kerap dipengaruhi cuaca ekstrem dan pertimbangan bisnis diduga menjadi faktor yang melatarbelakangi keputusan tersebut.
Layanan penyeberangan itu dioperasikan oleh Kapal Express Bahari 1F milik perusahaan pelayaran Express Bahari. Informasi penghentian operasional diumumkan secara resmi melalui akun Instagram perusahaan.
“Kami mohon maaf. Bersama ini kami informasikan bahwa Kapal Express Bahari 1F resmi tidak lagi beroperasi melayani rute Banyuwangi – Denpasar (PP),” tulis manajemen Express Bahari, Selasa (7/7/2026) sekitar pukul 08.00 WIB.
Perusahaan menyatakan kapal cepat tersebut resmi berhenti melayani rute Banyuwangi-Denpasar sejak 2 Juli 2026. Namun, tidak dijelaskan secara rinci alasan penghentian layanan tersebut.
“Merupakan sebuah kehormatan bagi kami dapat menjadi pilihan transportasi bagi masyarakat dan wisatawan yang bepergian antara Banyuwangi dan Denpasar. Terima kasih atas kepercayaan dan dukungan yang telah diberikan,” tulisnya.
Kepala UPT Pelabuhan Pengumpan Regional Banyuwangi, Yohanes Heri Kriswirawan, membenarkan penghentian operasional kapal cepat tersebut. Menurutnya, keputusan menghentikan layanan sepenuhnya menjadi kewenangan perusahaan pelayaran sebagai operator.
Heri menjelaskan, rute yang menghubungkan Pantai Marina Boom, Banyuwangi, dengan Pelabuhan Serangan, Bali, merupakan layanan yang dikelola oleh perusahaan swasta. Karena itu, operator memiliki keleluasaan menentukan rute pelayaran yang dinilai lebih menguntungkan secara bisnis.
“Mungkin ada pertimbangan (bisnis) dari perusahaan,” kata dia.
Meski demikian, Heri membantah anggapan bahwa minimnya jumlah penumpang menjadi penyebab utama penghentian layanan. Menurutnya, tingkat permintaan masyarakat terhadap kapal cepat tersebut justru tergolong baik.
“Kalau demand, sebenarnya cukup bagus,” ujar dia, tentang kapal yang pertama beroperasi akhir Juli 2025 itu.
Ia menilai tantangan terbesar justru berasal dari karakteristik jalur pelayaran Banyuwangi-Denpasar yang dikenal memiliki ombak dan arus cukup tinggi. Kondisi tersebut menyebabkan beberapa jadwal pelayaran sebelumnya terpaksa dibatalkan demi keselamatan penumpang.
Seiring berhentinya operasional kapal cepat, Pelabuhan Pantai Marina Boom kini kembali difokuskan sebagai pelabuhan rakyat yang melayani kapal-kapal kecil pengangkut logistik menuju sejumlah pulau terpencil.
“Sesuai fungsinya, menjadi pelabuhan rakyat,” lanjut dia. ham

