Surabaya – PANDANAGANRAKYAT.COM – Ketua LBH Ansor Jawa Timur, Muhammad Syahid, menyampaikan pandangannya terkait dinamika menjelang muktamar dan kontestasi kepemimpinan di lingkungan Nahdlatul Ulama (NU). Menurutnya, pihak yang telibat konflik selama kepengurusan kemarin sebaiknya tidak perlu terlibat lagi dalam kontestasi organisasi sekarang.

Menurut Syahid, langkah tersebut diperlukan untuk menjaga netralitas organisasi sekaligus menciptakan suasana muktamar yang lebih kondusif dan terbebas dari potensi konflik kepentingan.

Pendapat saya, sebaiknya yang terlibat di struktur sekarang lebih baik mundur dan tidak perlu ambil bagian dalam kontestasi kali ini agar muktamar lebih kondusif, ujar Syahid.

Ia menegaskan bahwa NU harus tetap menjaga khidmat perjuangannya sebagai organisasi keagamaan dan kemasyarakatan yang berorientasi pada pelayanan umat. Karena itu, ia mengingatkan agar NU tidak dijadikan alat politik untuk kepentingan perebutan kekuasaan.

Jangan jadikan NU sebagai kendaraan politik untuk meraih kekuasaan. Jadikan NU sebagai tempat untuk khidmat pada agama, bangsa, dan negara, tegasnya.

Menurut Syahid, semangat pengabdian kepada umat harus menjadi landasan utama dalam menjalankan roda organisasi. Muktamar, lanjutnya, seharusnya menjadi forum untuk memperkuat konsolidasi organisasi, merumuskan program kerja yang bermanfaat bagi masyarakat, serta memperkokoh peran NU dalam menjaga persatuan bangsa.

Ia juga berharap seluruh elemen NU dapat mengedepankan kepentingan jam’iyah di atas kepentingan kelompok maupun pribadi. Dengan demikian, proses regenerasi kepemimpinan dapat berlangsung secara sehat, demokratis, dan tetap menjunjung tinggi nilai-nilai kebersamaan yang menjadi tradisi NU.

Syahid menilai, di tengah berbagai tantangan sosial, politik, dan kebangsaan yang dihadapi Indonesia, NU perlu tetap fokus menjalankan perannya sebagai organisasi yang mengedepankan dakwah, pendidikan, pemberdayaan masyarakat, serta penguatan nilai-nilai keislaman yang moderat.

Muktamar harus menjadi momentum memperkuat pengabdian kepada umat dan bangsa, bukan sekadar arena kontestasi kekuasaan, pungkasnya.