Site icon Pandangan Rakyat

Puluhan KK di Ponorogo Krisis Air Bersih Gegara Air PDAM Mati 3 Minggu

Ponorogo, PANDANGANRAKYAT.COM – Sekitar 30 kepala keluarga di Dusun Dungus, Desa Karangpatihan, Kecamatan Pulung, Ponorogo, mengalami krisis air bersih. Aliran PDAM yang menjadi salah satu sumber utama air warga tak lagi mengalir selama sekitar tiga minggu, sementara sejumlah sumur mulai mengering akibat musim kemarau.

Kondisi itu membuat warga harus mencari berbagai cara untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Ada yang membeli air galon, mengambil air ke desa sebelah, hingga menumpang mandi di rumah saudara atau tetangga yang berjarak sekitar 1 kilometer.

Salah seorang warga, Rida Asmawati (45), mengatakan sebelumnya air PDAM masih mengalir setiap dua hari sekali. Namun, debitnya terus mengecil hingga akhirnya berhenti total.

“Awalnya PDAM masih mengalir dua hari sekali. Lama-lama kecil terus, tiga minggu ini sudah tidak mengalir sama sekali,” kata Rida, Selasa (11/8/2026).

Menurut Rida, aliran PDAM sebenarnya tidak perlu tersedia sepanjang hari. Warga hanya membutuhkan kepastian pasokan agar dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari.

“Kalau bisa PDAM dari Pulung airnya mengalir setiap hari. Kalau tidak, dua hari sekali juga cukup. Mengalir lima atau enam jam mungkin sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan kami,” ujarnya.

Akibat tidak adanya aliran PDAM, warga terpaksa mencari sumber air alternatif. Namun sejumlah sumur warga juga mulai mengering akibat musim kemarau.

“Airnya tidak bersih, tidak layak untuk diminum. Takut gatal juga karena sumbernya dari sungai, sementara sungainya juga kotor,” jelasnya.

Untuk kebutuhan minum, warga memilih membeli air galon. Sedangkan untuk mandi, sebagian warga terpaksa menumpang di rumah tetangga yang masih memiliki sumur dengan air.

“Kalau untuk mandi kadang numpang di rumah tetangga. Di sini banyak yang sumurnya sudah mengering,” ungkapnya.

Warga lainnya, Soirah (65), mengatakan kesulitan air bersih sudah dirasakan sekitar satu bulan terakhir. Awalnya air PDAM masih mengalir, tetapi debitnya terus menurun hingga akhirnya tidak mengalir sama sekali.

“Sudah satu bulanan ini susah, tidak ada air. Dulu sempat ada, tapi sekarang tidak ada sama sekali,” kata Soirah.

Warga sempat mengandalkan sumur milik tetangga untuk memenuhi kebutuhan air. Namun sumur tersebut kini juga mulai mengering.

Kondisi itu membuat warga harus membeli air galon. Dalam sehari, Soirah bisa membeli dua hingga tiga galon yang digunakan untuk kebutuhan mandi dan memasak.

“Sehari beli dua sampai tiga galon. Itu untuk mandi sama masak,” ungkapnya.

Sementara jika membutuhkan air dalam jumlah lebih banyak, warga harus mengambil atau meminta air ke desa sebelah. Jaraknya sekitar 1 kilometer dari rumah warga. ham

Exit mobile version