Site icon Pandangan Rakyat

SPPG di Tulungagung Dihentikan Sementara Imbas Dugaan Keracunan Puluhan Warga

Tulungagung, PANDANGANRAKYAT.COM – Puluhan warga di Kecamatan Rejotangan, Tulungagung disuga mengalami keracunan usai menyantap menu program Makan Bergizi Gratis (MBG). Kini operasional SPPG Pakisrejo yang menyuplai menu ditutup sementara.

Ketua Tim Pengawas Keamanan Pangan Program MBG Kecamatan Rejotangan, Eko Sumaryono mengatakan peristiwa keracunan massal tersebut sempat tidak terekspos karena pihak Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Pakisrejo terkesan menutup-nutupi.

Terbongkarnya kasus dugaan keracunan ini bermula dari keluhan para penerima manfaat kepada kader posyandu dengan gejala mual, muntah hingga diare pada Selasa (28/7/2026). Keluhan itu dilaporkan ke satgas dan ditindaklanjuti dengan proses pendataan.

“Rabu pagi saya dikirimi data-datanya, kaget kok banyak. Akhirnya saya langsung hubungi semua anggota satgas kecamatan, ayo kita langsung menuju ke lokasi, ke TKP, kita tindakan,” kata Eko Sumaryono, Jumat (31/7/2026).

Dari hasil pendataan di lapangan ditemukan 66 warga dengan keluhan serupa. 66 orang tersebut terdiri dari 47 orang penerima manfaat di Posyandu Pakisrejo atau B3 (Busui, Bumil, Balita), 3 orang dari SD Pakisrejo yang terdiri dari 1 guru dan 2 siswa, serta 16 orang lainnya dari sekolah di wilayah kerja Puskesmas Banjarejo.

“Alhamdulillah kondisinya sudah membaik semua,” jelasnya.

Eko mengakui kasus ini terkesan ditutupi oleh pihak SPPG karena takut viral. Namun, kondisi tersebut justru menganggu proses investigasi yang dijalankan oleh petugas kesehatan karena tidak segera ditangani.

Dari keterangan awal yang dihimpun satgas, kejadian bermula pada hari Senin pihak SPPG mendistribusikan menu MBG berupa nasi putih, daging masak kecap, sayur buncis dan tempe, buah jeruk, serta kerupuk kepada para penerima manfaat di posyandu dan sekolah.

Senin malam, beberapa warga yang menyantap menu tersebut mulai merasakan gejala keracunan makanan. Puncaknya pada Selasa siang jumlah korban semakin bertambah, hingga akhirnya dilaporkan ke petugas posyandu dan satgas.

“Ya, intinya kan SPPG sendiri berusaha untuk tidak viral. Jadi mungkin seperti itu, ya. Kami enggak berani memastikan. Tapi yang jelas kalau menurut penilaian saya sebagai satgas pengawasan pangan MBG di kecamatan, itu saya malah menilai seperti itu. Kesannya kurang terbuka,” jelasnya.

Usai kejadian tersebut, dapur SPPG masih beroperasi hingga Rabu kemarin. Menu MBG yang disajikan juga diunggah ke media sosial SPPG Pakisrejo.

“Jadi mulai hari ini operasionalnya ditutup. Sampai kapannya itu belum tahu karena kan itu kewenangannya dari BGN (Badan Gizi Nasional), ya, bukan dari kita-kita. Tapi yang jelas mulai hari ini sudah enggak beroperasi,” kata Eko.

Eko menambahkan, terkait kejadian dugaan keracunan tim dsri puskesmas telah diterjunkan ke dapur untuk melakukan investigasi terhadap prosedur serta standar kebersihan dan keamanan pangan yang dijalankan.

“Dari investigasi tersebut, tim menemukan sejumlah dugaan pelanggaran sanitasi di lokasi SPPG, antara lain penggunaan cairan pembersih non-food grade di area pengolahan makanan,” ujarnya.

Penyimpanan kerupuk di dalam gudang yang basah, kecap dan saus yang sudah dibuka tidak disimpan dalam wadah aman dan tertutup rapat.

Tim puskesmas juga menemukan kondisi lantai gudang bahan kering yang tergenang air dari tetesan AC. Tidak hanya itu sejumlah wadah nasi masih menggunakan plastik dan ruang pendinginan makanan yang belum dilengkapi saluran pembuangan panas. ham

Exit mobile version