Nganjuk, PANDANGANRAKYAT.COM – Hamparan Alas Jati Winlangan di kawasan perbatasan Kabupaten Madiun dan Kabupaten Nganjuk mulai berubah warna menjadi kecokelatan.
Daun-daun jati berguguran, sementara ranting-ranting tampak meranggas akibat berkurangnya intensitas hujan. Pemandangan ini menjadi penanda alami bahwa musim kemarau telah berlangsung di wilayah tersebut.
Setiap memasuki musim kemarau, kawasan hutan jati Winlangan memang mengalami perubahan yang cukup mencolok. Pepohonan jati menggugurkan daunnya sebagai bentuk adaptasi untuk mengurangi penguapan air.
Akibatnya, kawasan yang sebelumnya hijau kini terlihat lebih gersang dengan hamparan daun kering yang menutupi permukaan tanah.
Fenomena ini sejalan dengan kondisi cuaca di Jawa Timur yang saat ini didominasi musim kemarau.
BMKG menyebut atmosfer cenderung lebih kering akibat pengaruh angin monsun Australia, sehingga peluang hujan berkurang dan cuaca didominasi cerah hingga cerah berawan.
Meski menjadi pemandangan khas tahunan yang menarik perhatian masyarakat dan pengguna jalan, kondisi hutan yang dipenuhi daun kering juga meningkatkan potensi kebakaran hutan dan lahan.
“Karena itu, masyarakat diimbau tidak membuang puntung rokok sembarangan maupun menyalakan api di kawasan hutan,” ujar salah satu warga yang enggan disebutkan namanya, Rabu (5/8).
Selain menjadi penanda datangnya musim kemarau, Alas Jati Winlangan juga menyuguhkan panorama yang unik. Batang-batang jati yang menjulang dengan dedaunan berguguran menciptakan suasana eksotis yang kerap dimanfaatkan warga untuk berfoto maupun sekadar menikmati perjalanan di jalur perbatasan Madiun–Nganjuk.
Pemerintah dan masyarakat diharapkan terus menjaga kelestarian kawasan hutan dengan meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran selama musim kemarau berlangsung, sehingga keindahan Alas Jati Winlangan tetap terjaga dan dapat dinikmati oleh generasi mendatang. ham

