Surabaya, PANDANGANRAKYAT.COM – Sudah saatnya paradigma pembangunan sumber daya manusia pesantren bergeser.

Santri tidak cukup hanya dipersiapkan sebagai pencari kerja, tetapi harus didorong menjadi pelaku, penggerak, bahkan pemimpin di dunia industri. Dengan jumlah pesantren dan santri yang sangat besar di Indonesia, potensi ini merupakan modal strategis untuk memperkuat daya saing bangsa.

Selama ini pesantren telah terbukti berhasil membentuk karakter, integritas, kedisiplinan, dan etos kerja para santri. Nilai-nilai tersebut merupakan fondasi penting yang juga dibutuhkan oleh dunia industri modern.

Tantangannya adalah bagaimana memperkuat kompetensi teknis agar lulusan pesantren mampu menjawab kebutuhan industri yang terus berkembang.

Karena itu, kolaborasi antara pesantren, lembaga pendidikan vokasi, dan dunia industri harus diperluas. Kemitraan tersebut tidak cukup hanya dalam bentuk kunjungan atau kerja sama seremonial, tetapi diwujudkan melalui pelatihan berbasis kompetensi, sertifikasi profesi, program magang, hingga pengembangan sumber daya manusia (people development) yang dirancang sesuai kebutuhan industri.

Langkah seperti ini telah menjadi perhatian berbagai pihak dalam pengembangan santripreneur dan peningkatan kualitas SDM pesantren.

Dunia industri juga perlu membuka ruang yang lebih besar bagi lulusan pesantren. Salah satu bentuk keberpihakan yang dapat diwujudkan adalah penyediaan jalur atau kuota khusus dalam rekrutmen tenaga kerja bagi santri yang telah memenuhi standar kompetensi.

“Kebijakan afirmatif ini bukan semata-mata memberikan kemudahan, melainkan bentuk pengakuan atas potensi besar yang dimiliki lulusan pesantren,” ujarnya, Senin (6/7).

Lebih jauh lagi, santri tidak boleh hanya diposisikan sebagai tenaga kerja. Mereka harus dipersiapkan menjadi inovator, teknopreneur, manajer, hingga pemilik usaha yang mampu menciptakan lapangan pekerjaan baru. Dengan karakter yang kuat serta penguasaan teknologi dan keterampilan industri, santri memiliki peluang besar untuk menjadi bagian penting dalam transformasi ekonomi Indonesia.

Gagasan ini juga sejalan dengan berbagai upaya pemerintah yang mendorong lahirnya santripreneur dan penguatan ekosistem ekonomi pesantren melalui kolaborasi dengan dunia usaha.

Ke depan, keberhasilan pembangunan nasional tidak hanya ditentukan oleh besarnya investasi, tetapi juga oleh kualitas sumber daya manusia yang mampu menggerakkan industri secara berkelanjutan.

Pesantren memiliki semua prasyarat untuk melahirkan generasi tersebut. Yang dibutuhkan sekarang adalah keberanian membangun kemitraan yang nyata antara dunia pendidikan dan dunia industri, sehingga santri benar-benar menjadi bagian dari motor penggerak ekonomi Indonesia. ham