Pandanganrakyat.com – Aktivitas pasar modal di wilayah kerja Otoritas Jasa Keuangan Malang menunjukkan pertumbuhan signifikan. Pada Desember 2025, rata-rata nilai transaksi saham tercatat mencapai Rp6,187 triliun atau meningkat 56,84 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp3,945 triliun.

Kepala Kantor OJK Malang, Farid Faletehan, menyampaikan bahwa peningkatan ini mencerminkan tingginya minat investor, khususnya ritel, di tengah kondisi ekonomi global yang masih diliputi ketidakpastian.

Menurutnya, ketertarikan investor terhadap instrumen investasi yang relatif aman, seperti obligasi ritel negara, masih cukup kuat. Hal ini terlihat dari pertumbuhan jumlah Single Investor Identification (SID) untuk Surat Berharga Negara (SBN) yang naik 17,13 persen secara tahunan menjadi 34.016 SID.

Tidak hanya itu, jumlah investor reksa dana juga mengalami peningkatan signifikan sebesar 19 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Kondisi ini menunjukkan semakin luasnya minat masyarakat terhadap instrumen investasi yang dinilai stabil dan berisiko lebih rendah.

Dari sisi wilayah, Kota Malang menjadi daerah dengan nilai transaksi reksa dana tertinggi, yakni mencapai Rp542,11 miliar. Posisi berikutnya ditempati Kabupaten Malang dengan nilai transaksi sebesar Rp151,24 miliar.

Secara keseluruhan, jumlah investor pasar modal di wilayah kerja OJK Malang juga mengalami lonjakan. Hingga Januari 2026, jumlah investor tercatat sebanyak 404.759 SID atau tumbuh 34,67 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang berada di angka 300.566 SID.

Ekonom dari Universitas Brawijaya, Joko Budi Santoso, menilai tren ini menunjukkan peningkatan literasi keuangan masyarakat. Ia melihat semakin banyak investor yang mulai memahami pentingnya diversifikasi investasi, dengan memilih instrumen seperti reksa dana dan obligasi ritel negara.

Menurutnya, kedua instrumen tersebut menjadi pilihan menarik karena relatif aman di tengah gejolak ekonomi global, namun tetap menawarkan potensi keuntungan yang kompetitif.

Selain faktor keamanan, kemudahan akses layanan investasi serta peningkatan edukasi keuangan juga menjadi pendorong utama berkembangnya pasar modal. Hal ini terutama terlihat pada kalangan generasi muda, seperti Gen Z dan milenial, yang kini semakin aktif berinvestasi.

Kelompok usia tersebut cenderung memilih instrumen pasar modal, khususnya saham dan produk turunannya, sebagai bagian dari strategi pengelolaan keuangan mereka, dibandingkan dengan investasi konvensional seperti properti.

Dengan tren positif ini, OJK Malang optimistis pertumbuhan investor dan transaksi pasar modal di wilayahnya akan terus berlanjut, seiring dengan meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya investasi.