Jakarta, PANDANGANRAKYAT.COM – Bank Indonesia (BI) kembali menegaskan fungsinya untuk menjaga stabilitas perekonomian, terutama stabilitas nilai tukar rupiah, pengendalian inflasi hingga pertumbuhan ekonomi.

“BI akan tetap konsisten berada di pasar melalui berbagai instrumen dan intervensi, baik di pasar spot, NDF (offshore) dan DNDF di dalam negeri guna menjaga stabilitas rupiah,” kata Pjs Gubernur BI Destry Damayanti dalam Editor Briefing secara virtual, Jumat (31/7/2026).

Sekedar mengingatkan, rupiah kembali tertekan akibat kembali memanasnya konflik di Timur Tengah. Dalam sepekan terakhir, rupiah terus tertekan dan kembali bertengger di atas Rp 18.000 per dolar AS.

Hingga pukul 12.40 WIB, rupiah terlihat berada di level Rp 18.078 per dolar AS, menguat 0,18% dibanding penutupan hari sebelumnya yang berada di Rp 18.111 per dolar AS. Asal tahu saja, keputusan BI untuk mempertahankan suku bunga acuan di level 5,75% pada Rapat Dewan gubernur (RDG) bulan Juli 2026 dilakukan untuk repricing asset, memperkuat rupiah dan menjaga inflasi.

Tak hanya itu, sejumlah instrumen kebijakan pun dikeluarkan BI untuk mendorong penguatan rupiah. Pertama, menaikkan suku bunga SRBI yang bisa mendorong kepemilikan investor asing di SRBI.

Per 20 Juli 2026, investor asing di SRBI sudah  meningkat jadi Rp 288,65 triliun. Jumlah itu setara 27,11% dari total SRBI.

Kedua, memberikan insentif penurunan tingkat swap lindung nilai (hedging swap) bagi investor asing dari 10% menjadi 12,5%. Hal ini membuat biaya hedging lebih murah dan diharapkan investor mendapatkan net return lebih tinggi dan membuat aset Indonesia lebih menarik di mata investor asing.

Dengan kebijakan tersebut, BI mengharapkan investor asing lebih tertarik masuk ke pasar keuangan Indonesia dan menambah likuiditas serta mengerek cadangan devisa Indonesia.

Ketiga, memperluas instrumen operasi moneter valas dengan instrumen spot dan swap dalam valuta offshore Chinese Renminbi (CNH) terhadap rupiah sejalan dengan meluasnya penggunaan mata uang lokal (Local Currency Transaction).

Ke depan, BI pun optimistis, rupiah akan stabil dan cenderung menguat, didukung oleh komitmen BI, imbal hasil yang menarik serta pertumbuhan ekonomi yang tetap baik. Bank sentral pun tetap mempertahankan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia di kisaran 4,9%-5,7%. ham