Surabaya, PANDANGANRAKYAT.COM – Pemkot) Surabaya menggelar sayembara berhadiah uang tunai sebesar Rp300 ribu bagi warga yang berhasil merekam atau mendokumentasikan aksi pencurian fasilitas umum (fasum) di area publik. Langkah ini diambil guna memperketat pengawasan terhadap maraknya aksi pencurian sarana kota.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Surabaya, M. Fikser, menyatakan bahwa peran aktif masyarakat sangat dibutuhkan untuk menjaga fasum. Warga yang melihat tindakan pencurian maupun pelanggaran lingkungan cukup mendokumentasikannya dan mengunggah bukti tersebut ke media sosial resmi DLH Surabaya.

“Jadi kita membuat sayembara ini memang sudah lama. Bukan sekadar melapor kehilangan, tapi harus ada bukti orang yang melakukan pengambilan pencurian. Cukup foto, upload ke IG-nya Dinas Lingkungan Hidup, kita respons, kita berikan uang Rp300 ribu,” ujar Fikser di Pemkot Surabaya, Sabtu (8/8/2026).

Aksi pencurian fasum di Kota Surabaya belakangan menjadi sorotan setelah menyasar berbagai fasilitas di sekitar 800 taman kota dan jalur pedestrian. Barang-barang yang raib meliputi kursi besi, pot tanaman, bunga hias, hingga kabel lampu taman. Bahkan, terdapat insiden di mana pelaku mengangkut kursi besi menggunakan mobil ambulans.

Fikser menjelaskan, kursi besi pedestrian yang dipasang sejak 2016 hingga 2026 di sekitar 220 titik menjadi salah satu sasaran utama. Padahal, harga satu unit kursi tersebut diperkirakan mencapai lebih dari Rp3 juta karena terbuat dari material khusus.

Guna mencegah pencurian, DLH sebenarnya telah memperketat pengamanan teknis pada fasilitas publik. Kaki-kaki kursi telah dipasangi baut drat khusus hingga dilas agar tidak mudah dipindahkan. Namun, para pelaku masih menemukan cara untuk merusaknya.

Selain kursi, pencurian kabel lampu hias juga marak terjadi dengan panjang material yang dicuri mencapai puluhan meter dalam satu kali aksi. DLH menduga tindakan tersebut dilakukan oleh kelompok terorganisir yang sudah berpengalaman.

“Karena kabel dia bisa curi dalam waktu singkat sekian puluh meter. Itu kalau orang enggak biasa kan lilitnya susah. Saya kira mereka enggak individu, punya tim yang untuk melakukan itu,” pungkas Fikser. ham