Jakarta, PANDANGANRAKYAT.COM – PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) menegaskan transformasi menjadi agenda utama perseroan untuk menjaga pertumbuhan di tengah persaingan industri perbankan yang semakin ketat.

Di bawah kepemimpinan Direktur Utama Hery Gunardi, BRI menjalankan transformasi menyeluruh mulai dari model bisnis, digitalisasi, kualitas kredit, hingga budaya perusahaan.

Hery menegaskan transformasi bukan lagi pilihan, melainkan sebuah keharusan bagi bank yang ingin terus bertumbuh.

“Bagi bank yang going concern akan terus tumbuh ke depan, transformasi itu is a must, jadi keharusan. Nggak bisa kan kita, bahasa saya itu leleh-leleh gitu,” katanya, Jumat (3/7/2026).

Menurut Hery, perubahan lingkungan bisnis hingga regulasi membuat perbankan harus mampu beradaptasi agar tetap kompetitif.

“Persaingan itu akan terus terjadi. Environment berubah, aturan pemerintah berubah. Jadi artinya kita harus siap untuk meng-adopt kondisi yang memang menurut kita akan kalau kita tidak melakukan transformasi itu akan memberikan impact negatif kepada banknya,” tuturnya.

Hery menjelaskan, saat dirinya bersama tim manajemen baru ditunjuk pemegang saham pada akhir Maret 2025, terdapat dua area utama yang langsung menjadi perhatian.

“Kami melihat bahwa oh ternyata ada dua hal besar yang harus kita transform. Di BRI pertama adalah dari sisi cost of fund. Cost of fundnya waktu itu cukup tinggi, diatas 3%. Kemudian cost of credit juga dibandingkan dengan peernya kita, itu kita paling tinggi. Jadi artinya apa? Ini adalah room for improvement untuk BRI.”

Untuk menurunkan biaya dana, BRI mengoptimalkan infrastruktur yang telah dimiliki, mulai dari jaringan kantor, BRImo, AgenBRILink, hingga ekosistem QRIS. Salah satu fokus utama adalah meningkatkan jumlah pengguna aktif BRImo.

“BRIMo itu mungkin user register-nya ada sekitar hampir 50 juta. Tapi yang aktif mungkin gak sampai segitu. Nah gimana caranya kita dorong agar yang aktif ini lebih banyak,” papar Hery.

Langkah tersebut berdampak pada lonjakan aktivitas transaksi di aplikasi super milik BRI tersebut.

“Begitu yang aktif lebih banyak, yang tadinya transaksi harian BRIMo itu hanya 21 triliun sehari. Sekarang sudah bisa mencapai sehari 33 triliun,” sebutnya.

Selain menyempurnakan fitur, BRI juga memperbaiki tampilan aplikasi agar semakin mudah digunakan oleh nasabah.

Di sisi lain, BRI mulai mengembangkan bisnis merchant yang sebelumnya belum menjadi fokus utama. Perluasan jaringan merchant itu menjadi salah satu strategi untuk meningkatkan penghimpunan dana murah.

Hasilnya, rasio dana murah atau CASA meningkat signifikan.

Selain biaya dana, BRI juga melakukan pembenahan pada kualitas kredit, terutama di segmen mikro yang menyumbang sekitar 45% portofolio pembiayaan perseroan. Menurut Hery, berbagai proses bisnis diperbaiki, mulai dari pelaksanaan on the spot (OTS) hingga pemanfaatan teknologi dalam proses kredit. Perbaikan tersebut diharapkan mampu menekan biaya kredit secara bertahap. ham