Gresik – PANDANGARAKYAT.COM – Kabupaten Gresik di Jawa Timur kembali menjadi sorotan sebagai daerah yang memiliki dua identitas kuat, yakni Kota Santri dan Kota Industri. Dalam pandangan pengamat lokal yang dikenal dengan sapaan Cak Duki, dua identitas ini bukan untuk dipertentangkan, melainkan harus dilihat sebagai kekuatan yang saling melengkapi.

Gresik iki unik. Satu sisi dikenal sebagai kota santri, sisi lain kota industri. Ojo dipilih salah siji, tapi digandeng ben maju bareng, begitu kurang lebih pandangan Cak Duki dalam gaya khas obrolan masyarakat Jawa Timur.

Secara historis, Gresik memang dikenal sebagai salah satu pusat penyebaran Islam di Jawa, dengan jejak Wali Songo seperti Sunan Giri dan Syekh Maulana Malik Ibrahim yang menjadikan wilayah ini sebagai pusat dakwah dan pendidikan agama. Hal ini yang membuat julukan Kota Santri tetap melekat hingga sekarang.

Namun di sisi lain, perkembangan ekonomi modern membuat Gresik tumbuh pesat sebagai kawasan industri strategis di Jawa Timur. Banyaknya pabrik, kawasan industri, hingga pelabuhan modern menjadikan daerah ini sebagai salah satu pusat pertumbuhan ekonomi penting di wilayah timur Indonesia.

Menurut Cak Duki, tantangan terbesar Gresik saat ini bukan pada memilih identitas, tetapi bagaimana menjaga keseimbangan. “Santri tetap jalan, industri juga jalan. Sing penting ora nganti salah siji kelangan arah,” ujarnya dalam gaya santai.

Sejumlah kajian juga menyebut bahwa industrialisasi di Gresik memang membawa perubahan sosial, namun identitas religius masyarakat tetap bertahan dan berdampingan dengan modernisasi ekonomi.

Fenomena ini membuat Gresik sering disebut sebagai contoh daerah dengan identitas ganda yang hidup berdampingan, di mana nilai-nilai tradisi pesantren berjalan bersamaan dengan perkembangan industri modern.

Dengan kondisi tersebut, Cak Duki menilai masa depan Gresik ada pada kemampuan menjaga keseimbangan dua kekuatan ini. Kalau iso dijaga bareng-bareng, Gresik iki iso dadi contoh kota maju tapi tetep nduwe ruh, pungkasnya.