Jakarta, PANDANGANRAKYAT.COM – Kementerian Trasmigrasi (Kementrans) menggelar program Tim Ekspedisi Patriot (TEP) 2026 untuk memperkuat pembangunan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat di kawasan kawasan transmigrasi di berbagai wilayah Indonesia.
Terbaru, Menteri Transmigrasi M. Iftitah Sulaiman Suryanagara menugaskan 1.476 peserta TEP 2026 untuk menjadi problem solver di 53 kawasan transmigrasi.
“Indonesia membutuhkan SDM yang tidak lagi menunggu perintah, tetapi mampu melihat masalah, menganalisisnya, lalu menghadirkan solusi. Itulah yang kami sebut sebagai Disiplin Inisiatif,” ujar Iftitah dalam keterangannya, Selasa (28/7/2026).
Iftitah menegaskan Indonesia membutuhkan sumber daya manusia yang tidak sekadar disiplin, tetapi juga berani mengambil inisiatif, kreatif, dan inovatif.
Menurutnya, karakter Disiplin Inisiatif menjadi fondasi untuk melahirkan SDM unggul sekaligus pemimpin masa depan yang mampu menghadirkan solusi, bukan hanya menunggu instruksi. Karena itu, Iftitah menekankan tantangan pembangunan tidak bisa diselesaikan hanya dari ruang kuliah.
Peserta TEP 2026 diterjunkan langsung ke kawasan transmigrasi untuk mengidentifikasi persoalan, memetakan potensi, menguji temuan dengan pendekatan ilmiah, lalu merumuskan solusi yang dapat dijalankan bersama masyarakat dan pemerintah daerah.
Ia menegaskan setiap rekomendasi harus lahir melalui metodologi yang kuat, analisis yang objektif, dan kajian yang sistematis, bukan berdasarkan asumsi atau pengamatan sepintas.
Menurut Iftitah, penugasan Patriot muda ke kawasan transmigrasi juga merupakan investasi strategis negara untuk mendistribusikan talenta unggul ke seluruh pelosok Indonesia.
Kehadiran mereka diharapkan tidak hanya memperkaya pengalaman lapangan, tetapi juga mempercepat lahirnya solusi nyata bagi pembangunan kawasan transmigrasi melalui kolaborasi dengan masyarakat dan pemerintah daerah. Iftitah mengingatkan peserta TEP bahwa mereka akan menghadapi persoalan kompleks di kawasan transmigrasi, termasuk masalah yang telah berlangsung selama puluhan tahun.
Karena itu, peserta tidak dituntut menyelesaikan seluruh persoalan dalam waktu singkat, melainkan menjadi bagian dari upaya penyelesaian yang berkelanjutan.
Menurutnya, pembangunan transmigrasi harus terus berjalan tanpa bergantung pada pergantian kepemimpinan, sehingga setiap generasi memiliki peran untuk melanjutkan solusi yang telah dirintis. ham

