Jakarta, PANDANGANRAKYAT.COM – Menko Bidang Pangan Zulkifli Hasan (Zulhas) mengatakan Program Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) diarahkan untuk meningkatkan Nilai Tukar Nelayan (NTN) dari sekitar 103 menjadi 120 pada 2027.

Peningkatan tersebut diupayakan melalui pemangkasan rantai distribusi hasil perikanan, penguatan fasilitas penyimpanan, serta perluasan akses nelayan terhadap pasar.

“Kebijakan Presiden yang utama, kita harus swasembada. Nilai tukar nelayan kita di angka 103, sampai dengan 2027 kita proyeksikan nilai tukarnya meningkat menjadi 120,” kata Zulhas dalam keterangan resmi yang diterima di Jakarta, Jumat (31/7).

Menurut dia, panjangnya rantai distribusi menyebabkan nilai jual hasil tangkapan belum optimal, sedangkan keterbatasan penyimpanan membuat mutu produk perikanan sulit dipertahankan.

Pemerintah karena itu mengembangkan KNMP sebagai ekosistem ekonomi pesisir yang menghubungkan kegiatan penanganan hasil tangkapan, penyimpanan, distribusi, dan pengembangan unit usaha perikanan.

Dukungan rantai dingin dan sarana logistik diharapkan membuat hasil tangkapan dapat disimpan lebih lama, menjangkau pasar yang lebih luas, serta memberikan nilai ekonomi lebih besar kepada nelayan.

“KNMP dirancang untuk meningkatkan Nilai Tukar Nelayan dengan memperpendek rantai distribusi hasil perikanan sehingga nelayan memperoleh nilai ekonomi yang lebih besar dari hasil tangkapannya,” ujar Zulhas.

Secara nasional, pemerintah menargetkan pembangunan 5.000 KNMP hingga 2029. Sebanyak 1.369 kawasan ditargetkan terbangun hingga akhir 2026.

Pembangunan tahap pertama telah rampung di 65 lokasi yang tersebar di 25 provinsi, sedangkan 35 lokasi tahap kedua ditargetkan selesai secara bertahap pada Agustus 2026.

Selain itu, pemerintah telah menyelesaikan verifikasi terhadap 1.269 calon lokasi sebagai bagian dari persiapan pembangunan berikutnya.

Di Nusa Tenggara Timur, empat KNMP telah dibangun dan siap dioperasikan, masing-masing berada di Manggarai Barat, Flores Timur, Alor, dan Kupang.

Salah satunya adalah KNMP di Desa Warloka, Kabupaten Manggarai Barat, yang dikembangkan sebagai pusat kegiatan ekonomi pesisir terpadu.

KNMP Warloka didukung 263 nelayan aktif dan 178 unit armada kapal dengan komoditas unggulan ikan tongkol, tembang, dan layang.

Saat melakukan tinjauan bersama Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono pada Kamis (30/7), Zulhas menyebutkan bahwa kawasan tersebut diproyeksikan menghasilkan 1.038 ton komoditas perikanan per tahun serta memberikan potensi peningkatan pendapatan sekitar Rp3,5 juta per nelayan per bulan setelah mulai beroperasi.

Untuk menjaga mutu hasil tangkapan dan mendukung distribusi, KNMP Warloka dilengkapi satu unit gudang beku portabel, satu unit pabrik es, satu mobil berpendingin, serta 50 kotak pendingin.

Berdasarkan analisis kelayakan usaha, 10 unit usaha di kawasan itu berpotensi membukukan omzet Rp6,97 miliar per tahun dengan laba bersih sekitar Rp677,77 juta per tahun.

Kontributor omzet terbesar diproyeksikan berasal dari unit gudang beku sebesar Rp4,32 miliar per tahun, diikuti kios perbekalan Rp2 miliar dan pabrik es Rp288 juta per tahun.

“Keberadaan KNMP Warloka diproyeksikan memberikan dampak ekonomi yang nyata,” tutur Zulhas.

Pemerintah berharap penguatan fasilitas rantai dingin, logistik, dan unit usaha perikanan dapat meningkatkan nilai tambah hasil tangkapan sekaligus memperkuat pendapatan serta kesejahteraan masyarakat pesisir. ham