Oleh : Bung Luffi
Editorial, PANDANGANRAKYAT.COM – Hari Buruh Internasional atau May Day kembali diperingati setiap tanggal 1 Mei. Namun, peringatan ini seharusnya tidak berhenti sebagai seremoni tahunan yang penuh slogan dan janji. Lebih dari itu, May Day harus menjadi momentum refleksi dan aksi nyata, terutama bagi pemerintah dan pemangku kebijakan, untuk menempatkan persoalan buruh sebagai prioritas utama.
Masalah perburuhan di Indonesia bukanlah hal baru. Ia merupakan persoalan klasik yang terus berulang layaknya siklus tanpa akhir. Mulai dari upah yang belum sepenuhnya layak, ketidakpastian kerja, hingga perlindungan yang masih lemah, semuanya masih menjadi bayang-bayang yang menghantui kehidupan para pekerja.
Pemerintah memiliki tanggung jawab besar untuk menciptakan lapangan kerja yang luas sekaligus layak bagi rakyat. Pertumbuhan ekonomi tidak akan berarti banyak jika tidak diiringi dengan peningkatan kesejahteraan buruh sebagai tulang punggung produktivitas nasional. Oleh karena itu, kebijakan yang berpihak pada penciptaan pekerjaan yang manusiawi dan berkelanjutan harus terus diperkuat.
Namun, kesejahteraan buruh juga perlu berjalan seimbang dengan keberlangsungan dunia usaha. Iklim investasi yang sehat tetap penting agar roda ekonomi terus berputar. Dalam konteks ini, diperlukan pendekatan yang adil dan proporsional, di mana buruh tidak dipandang sebagai beban, melainkan sebagai mitra strategis dalam pembangunan ekonomi.
Sudah saatnya relasi antara pengusaha dan buruh bergeser ke arah yang lebih manusiawi. Buruh bukan sekadar tenaga kerja yang bisa diperlakukan semena-mena, melainkan manusia yang memiliki hak, martabat, dan peran penting dalam kemajuan bangsa. Pengakuan terhadap hal ini akan menjadi fondasi bagi terciptanya hubungan industrial yang harmonis.
May Day harus menjadi pengingat bahwa perjuangan buruh belum selesai. Ia bukan hanya tentang mengenang sejarah, tetapi juga tentang memperjuangkan masa depan yang lebih adil. Pemerintah, pengusaha, dan seluruh elemen masyarakat perlu bergandengan tangan untuk memastikan bahwa kesejahteraan buruh benar-benar terwujud, bukan sekadar janji.
Selamat Hari Buruh. Semoga ke depan, peringatan ini tidak hanya menjadi rutinitas, tetapi juga menjadi titik balik bagi perubahan nyata.(red/ed)

