Surabaya, PANDANGANRAKYAT.COM – DPP Persatuan Ahli Gizi Indonesia (PERSAGI) tengah menyiapkan rekomendasi bagi pemerintah untuk memperkuat pembangunan gizi nasional. Hal itu dibahas dalam Temu Ilmiah Nasional II PERSAGI, yang nantinya akan disampaikan kepada Presiden sebagai bahan penguatan kebijakan.
Ketua Umum DPP PERSAGI Ir. Doddy Izwardy mengatakan rekomendasi tersebut berfokus pada penguatan ketahanan gizi, keamanan pangan, kesehatan saluran cerna, hingga edukasi masyarakat. Menurutnya, peran organisasi profesi dibutuhkan untuk mendukung target Indonesia Emas 2045 dan penurunan stunting.
“Nanti kita akan berikan kepada pemerintah, ke Bapak Presiden, hasil dari semua tim ini. Karena tujuan kita adalah 2045 yang 19 tahun lagi, yang stunting-nya harus 5%. Kami lah yang berusaha memberikan ke pemerintah karena kami kepakaran dari profesi,” kata Doddy di sela Temu Ilmiah Nasional II PERSAGI yang digelar di Trans Luxury Hotel Surabaya, Jumat (3/7/2026).
Ia menilai intervensi gizi harus kembali difokuskan kepada kelompok sasaran, terutama 1.000 Hari Pertama Kehidupan, mulai dari ibu hamil hingga anak usia dini.
“Program yang paling harus terus kita kembalikan lagi adalah pemberian makanan kepada kelompok yang berdampak. Seperti kelompok 1.000 hari pertama kehidupan mulai dari ibu hamil sampai anak baduta,” ujarnya.
Doddy juga mengapresiasi capaian Jawa Timur dalam menurunkan prevalensi stunting. Ia berharap Program Makan Bergizi Gratis (MBG) mampu mempercepat penurunan angka stunting hingga mencapai target nasional.
“Yang nomor satu Bali, nomor dua Provinsi Jawa Timur itu yang membuat turun sehingga 14%. Angka kita ini baru 19,8%, kita khawatir jangan naik lagi. Mudah-mudahan dengan ada MBG ini itu bisa menurunkan stunting sehingga 2029 stunting itu turun 14,4%,” imbuhnya.
Senada, Deputi Bidang Kewirausahaan Kementerian UMKM M. Riza Adha Damanik menilai MBG tidak hanya meningkatkan kualitas gizi masyarakat, tetapi juga menggerakkan ekonomi karena melibatkan petani, nelayan, peternak hingga UMKM dalam rantai pasok pangan.
Riza menambahkan pihaknya bersama PERSAGI juga menjalin kerja sama untuk mendorong lahirnya nutripreneur, yakni ahli gizi dengan kemampuan berwirausaha.
“Kami menyambut inisiatif Persagi dengan membangun kerja sama dalam kerangka mendorong lahirnya nutripreneur. Mereka punya keahlian terkait gizi dan di sisi lain diharapkan menjadi pengusaha yang bisa menciptakan lapangan pekerjaan dan berkontribusi terhadap ekonomi daerah,” tuturnya.
Kerja sama tersebut akan diwujudkan secara konkret melalui beberapa upaya seperti penguatan inkubasi usaha, pendampingan, akses pembiayaan, serta pemanfaatan platform pendataan UMKM.
Sementara itu, Sekretaris Daerah Jawa Timur Adhy Karyono menyebut pelaksanaan MBG di Jawa Timur memberikan dampak positif. Selain berkontribusi terhadap perbaikan gizi dan penurunan stunting, program tersebut ikut mendorong pertumbuhan ekonomi daerah melalui ekosistem rantai pasok.
“Program prioritas nasional quick win-nya Pak Presiden di lapangan berjalan dengan baik dan dampaknya bukan hanya utamanya gizi dan kesehatan anak, siswa, santri, ibu hamil, anak balita, tetapi ini menumbuhkan dampak yang sangat luar biasa terhadap perekonomian di Jawa Timur,” kata Adhy.
Ia menyebut pertumbuhan ekonomi Jawa Timur pada triwulan I 2026 mencapai 5,96%. Menurutnya, salah satu pendorong capaian tersebut berasal dari meningkatnya aktivitas ekonomi UMKM yang terlibat dalam rantai pasok MBG. ham

