Surabaya, Pandangarakyat.com – Tanaman tebu yang kurang terawat disebut menjadi salah satu penyebab menurunnya produksi gula di sejumlah daerah sentra pertanian. Kondisi batang yang kecil, daun menguning, hingga pertumbuhan tidak maksimal berdampak langsung terhadap kadar gula dan hasil panen petani.

perawatan tanaman tebu yang tidak optimal membuat proses fotosintesis terganggu sehingga pembentukan sukrosa atau kandungan gula dalam batang tebu menjadi lebih rendah. Selain itu, serangan hama dan penyakit juga semakin mudah terjadi pada tanaman yang tidak mendapatkan perawatan rutin.

Tanaman Saccharum officinarum membutuhkan unsur hara yang cukup, pengairan teratur, serta pengendalian gulma agar mampu tumbuh maksimal. Jika kebutuhan tersebut tidak terpenuhi, batang tebu cenderung kecil dan produksi nira menurun.

“Ketika batang tebu kecil dan pertumbuhannya lambat, otomatis hasil gula yang dihasilkan juga turun. Rendemen gula sangat dipengaruhi kualitas tanaman,” ujar salah satu praktisi pertanian tebu di Jawa Timur.

Selain faktor pemupukan, kondisi tanah yang terlalu padat dan minim bahan organik juga menjadi penyebab utama rendahnya produktivitas tebu. Petani juga diminta memperhatikan kualitas bibit sebelum masa tanam dimulai.

Beberapa solusi yang dapat dilakukan petani untuk meningkatkan produksi tebu di antaranya:

  • melakukan pemupukan berimbang menggunakan unsur nitrogen, fosfor, dan kalium,
  • menjaga ketersediaan air terutama saat masa pertumbuhan awal,
  • membersihkan gulma secara rutin,
  • menggunakan bibit unggul dan sehat,
  • serta melakukan pengendalian hama dan penyakit secara berkala.

Penerapan pola perawatan yang baik diyakini mampu meningkatkan ukuran batang, kadar gula, hingga hasil panen tebu secara signifikan. Jawa Timur sendiri masih menjadi salah satu daerah penghasil tebu terbesar di Indonesia dengan kebutuhan gula nasional yang terus meningkat setiap tahun.