Pandanganrakyat.com – Fenomena pamer atau flexing yang kerap muncul dalam interaksi sosial, terutama saat momen Lebaran, perlu disikapi dengan cara yang sehat secara psikologis. Psikolog klinis lulusan Universitas Indonesia, Phoebe Ramadina, menekankan pentingnya menjaga respons agar tetap netral dan tidak terjebak dalam dorongan untuk “mengimbangi” apa yang ditampilkan orang lain.
Menurut Phoebe, menghadapi perilaku flexing tidak harus direspons dengan kompetisi atau pembuktian diri. Sikap yang tenang dan tidak memperpanjang pembicaraan ke arah perbandingan dinilai sudah cukup, sambil tetap menyadari bahwa apa yang tampak di permukaan belum tentu mencerminkan kondisi sebenarnya.
Ia menjelaskan bahwa momen Lebaran, yang identik dengan berkumpulnya keluarga besar, sering kali memunculkan dinamika sosial berupa perbandingan pencapaian hidup. Dalam situasi tersebut, sebagian orang terdorong untuk menunjukkan keberhasilan, baik dari sisi materi maupun status sosial.
Perilaku flexing, lanjutnya, umumnya berkaitan dengan kebutuhan akan validasi dan pengakuan dari lingkungan sekitar. Individu ingin dianggap berhasil atau setidaknya tidak tertinggal dibandingkan anggota keluarga lainnya. Hal ini juga tidak lepas dari pengaruh budaya yang sering mengaitkan kesuksesan dengan kepemilikan materi.
Lebih jauh, Phoebe menilai bahwa tindakan pamer juga bisa menjadi bentuk kompensasi atas rasa tidak aman atau kekhawatiran dianggap gagal. Bahkan, dalam beberapa kasus, seseorang rela melakukan berbagai cara demi terlihat sukses, termasuk menggunakan barang mewah yang tidak sepenuhnya mencerminkan kondisi aslinya.
Ia menambahkan bahwa tekanan sosial dalam keluarga, fenomena fear of missing out (FOMO), serta kondisi harga diri yang belum stabil turut mendorong munculnya perilaku tersebut. Di tengah era yang menekankan citra dan penampilan, banyak individu merasa perlu memenuhi ekspektasi sosial, meskipun harus mengorbankan keaslian diri.
Dalam menghadapi anggota keluarga yang menunjukkan perilaku flexing, Phoebe menyarankan agar individu tetap berpegang pada nilai dan standar pribadi. Menjaga jarak secara emosional juga penting jika interaksi mulai terasa melelahkan secara mental.
Namun demikian, ia juga mengingatkan pentingnya membangun empati. Perilaku pamer bisa jadi merupakan cara seseorang untuk mencari pengakuan atau merasa dihargai oleh lingkungannya.
Agar suasana Lebaran menjadi lebih bermakna, Phoebe mendorong agar percakapan dalam keluarga diarahkan pada hal-hal yang memperkuat hubungan emosional, bukan sekadar membahas pencapaian. Berbagi pengalaman hidup, termasuk tantangan dan pelajaran yang diperoleh, dinilai dapat menciptakan kedekatan yang lebih tulus.
Selain itu, mengenang momen kebersamaan di masa lalu, saling memberikan apresiasi, hingga membicarakan harapan ke depan juga dapat membuka ruang komunikasi yang lebih hangat. Dengan pendekatan tersebut, kebersamaan keluarga tidak hanya terasa secara fisik, tetapi juga mampu mempererat hubungan yang lebih suportif dan bermakna.
Ikuti Kami