Trenggalek, PANDANGANRAKYAT.COM – Musim kemarau yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir mengakibatkan sumber air warga Trenggalek mengering. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) mencatat 10 desa yang mengalami krisis air.

Kepala Pelaksana BPBD Trenggalek, Stefanus Triadi Atmono mengatakan 10 desa tersebut tersebar di lima kecamatan, meliputi Tugu, Panggul, Gandusari, Pogalan dan Kecamatan Kampak.

Menurutnya sebagian masyarakat di desa-desa tersebut saat ini mengalami kesulitan untuk mendapatkan air bersih. Pasokan air dari sumur maupun mata air di kawasan pegunungan mulai mengalami penyusutan.

“Sehingga ketersediaan air tidak lagi mencukupi untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari warga,” jelasnya.

Saat ini pihak desa telah mengajukan bantuan ke BPBD Trenggalek untuk mendapatkan pasokan air bersih secara berkala. “Ini proses sudah mulai pengiriman,” imbuhnya.

Triadi mengimbau seluruh masyarakat untuk meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi bencana kekeringan, sebab krisis air bisa meluas ke desa-desa lain.

“Trenggalek ini daerah rawan kekeringan cukup banyak, sehingga kewaspadaan itu penting, termasuk melakukan penghematan dalam pemanfaatan air bersih,” katanya.

Sementara itu Plt Camat Panggul, Bambang Supriyadi mengatakan wilayahnya merupakan daerah paling parah terdampak kekeringan.

“Panggul memang paling banyak, sampai sekarang sudah ada lima desa yang terdampak dan sudah mengajukan bantuan ke BPBD,” kata Bambang.

Menurutnya pengiriman bantuan air bersih saat ini telah dijadwalkan pihak BPBD dan akan segera dilakukan distribusi secara bertahap.

“Kemarin itu yang dapat kiriman di Dusun Bungur, Desa Besuki. Bantuan dikirim dari BPBD bersama BBWS Brantas,” ujarnya.

Menurutnya wilayah yang terdampak kekeringan mayoritas mengandalkan pasokan air dari mata air yang ada di lereng pegunungan. Saat ini kondisi mata air telah mengalami penyusutan, sehingga tidak mencukupi.

“Biasanya warga ambil air pakai selang-selang kecil dari mata air sampai rumah. Sekarang tidak cukup airnya,” imbuhnya. ham