Jakarta, PANDANGANRAKYAT.COM – Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) non subsidi Pertamax RON 92 menjadi Rp16.250 per liter menuai keluhan dari kalangan pengemudi ojek online (ojol) atau driver ojol. Mereka mengaku biaya operasional harian meningkat drastis, sehingga mengancam pendapatan yang diperoleh dari menarik penumpang maupun mengantar pesanan.
Sejumlah pengemudi mengaku terkejut dengan besarnya kenaikan harga Pertamax, yakni dari Rp12.600 menjadi Rp16.650 per liter. Selisih lebih dari Rp4.050 per liter dinilai bukan angka kecil bagi pekerja sektor informal yang pendapatannya bergantung pada jumlah order harian.
Salah satu pengemudi ojol, Ikhsan (27), mengaku sangat keberatan dengan kenaikan harga BBM tersebut. Menurutnya, kebijakan itu akan berdampak langsung terhadap pengeluaran harian para pekerja transportasi online.
“Biasanya kami sehari mengisi Rp 50 ribu Pertamax sudah full, sekarang bisa Rp 65 ribu-Rp 70 ribu. Otomatis uang bersih yang kita bawa ke rumah terpotong dari beli BBM saja,” ujarnya saat ditemui SPBU Jalan Diponegoro Pangkalan Bun, Rabu (10/6/2026) pagi.
Ikhsan mengatakan, bahan bakar merupakan kebutuhan utama dalam pekerjaannya. Sementara tarif layanan ojek online hingga kini belum mengalami penyesuaian.
“Sementara biaya operasional terus meningkat, tarif masih tetap, pendapatan bersih otomatis tergerus,” keluhnya lagi.
Para driver ojol berharap ada langkah yang dapat membantu meringankan beban masyarakat di tengah kenaikan harga BBM. Mereka khawatir biaya bahan bakar yang semakin tinggi akan semakin menggerus penghasilan, sementara tarif layanan transportasi online tidak mengalami penyesuaian. ham

