Surabaya, PANDANGANRAKYAT.COM – Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Airlangga (Unair) menginisiasi petisi daring di change.org untuk menghentikan program Makan Bergizi Gratis (MBG). Tuntutan tersebut disampaikan melalui petisi daring yang diinisiasi BEM Unair dan disebarluaskan melalui akun Instagram resmi organisasi mahasiswa tersebut. “Kami mengajak masyarakat Indonesia menandatangani petisi daring untuk diberhentikannya program problematik ini,” tulis BEM Unair dalam unggahannya.

Berdasarkan data pada laman petisi online hingga Senin (8/6/2026) pukul 11.00 WIB, jumlah tanda tangan terverifikasi telah mencapai 26.859.

Dalam petisi tersebut, BEM Unair juga menyampaikan sejumlah alasan yang mendasari tuntutan penghentian program MBG, mulai dari persoalan keamanan pangan, penggunaan anggaran hingga dugaan praktik korupsi. Mereka meminta program tersebut dihentikan sementara sampai berbagai persoalan yang ada dapat diselesaikan dengan baik.

Adapun penjelasan masalah dalam link petisi, yakni:

“Kami dari BEM Universitas Airlangga ingin mengajak masyarakat Indonesia untuk menyadari betapa problematiknya Program Makan Bergizi Gratis yang digagas oleh Presiden Prabowo Subianto. Keprihatinan ini semakin mendalam setelah mantan Kepala Badan Gizi Nasional, Dadan Hindayana, ditangkap dan kantor Badan Gizi Nasional digeledah. Hal ini menunjukkan bahwa ada masalah serius dalam program ini.

Puluhan ribu siswa telah mengalami keracunan akibat program ini, dan insiden kesehatan ini hanya dicatat sebagai data statistik oleh Badan Gizi Nasional dan Presiden Prabowo Subianto. Ini sangat merisaukan karena menunjukkan kurangnya perhatian pada keselamatan dan kesehatan generasi muda kita.

Lebih dari itu, ada indikasi penghamburan anggaran dalam penyediaan barang-barang yang tidak perlu dan berpotensi ada praktik korupsi di dalamnya. Alih-alih menjadi berkat, program ini menjadi beban, menguras anggaran yang seharusnya bisa dialokasikan untuk kebutuhan yang lebih mendesak dan memiliki dampak lebih langsung pada kesejahteraan rakyat.

Kami mendesak agar Program Makan Bergizi Gratis diberhentikan sampai semua masalah yang ada dapat ditangani dengan baik. Kita harus memastikan bahwa setiap program pemerintah berjalan dengan transparansi, akuntabilitas, dan menempatkan kesejahteraan rakyat sebagai prioritas utama.

Kami memohon dukungan Anda. Dengan menandatangani petisi ini, kita bisa membuat perubahan dan membangun Indonesia yang lebih baik.”


Presiden BEM Unair Rizqi Senja menjelaskan alasan di balik seruan petisi tersebut. Menurutnya, polemik yang terjadi di Badan Gizi Nasional menjadi salah satu alasan utama pihaknya menilai program MBG perlu mendapat perhatian serius.

“Sebetulnya pada dasarnya kemarin terjadi gonjang-ganjing di negeri ini, karena pada akhirnya program problematik pemerintahan Prabowo-Gibran, yakni MBG itu, Kepala BGN-nya dicopot dan kantor BGN digeledah,” kata Senja, Senin (8/6/2026).

Menurut Senja, kondisi tersebut menjadi indikasi yang cukup kuat untuk mempertanyakan pelaksanaan program MBG.

“Itu kan belum ada (pemerintah validasi MBG bermasalah). Sampai pada akhirnya titik utamanya ketika Kepala BGN dicopot (dan tersangka). Itu menjadi indikasi yang cukup sentral untuk kita bisa menganggap bahwa MBG memang bermasalah,” jelasnya.

Karena itu, BEM Unair mengambil sikap tegas dengan membuka petisi penghentian program MBG sebagai bentuk aspirasi publik.

Meski demikian, BEM Unair juga memberikan usulan apabila pemerintah tetap melanjutkan program tersebut. Salah satunya dengan memfokuskan MBG ke wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).

Menurut Senja, jika tujuan utama program adalah meningkatkan gizi anak-anak, maka prioritas seharusnya diberikan kepada daerah yang benar-benar membutuhkan. ham