Lamongan, PANDANGANRAKYAT.COM – Kondisi mengenaskan terlihat  di SPPG Sukomulyo Lamongan.

Suasana mendadak sunyi menyelimuti bangunan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Sukomulyo, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur. 

Tempat yang biasanya dipenuhi aktivitas memasak dan distribusi makanan bergizi itu kini tertutup rapat dengan gembok besar serta banner penutup yang terpasang di bagian depan bangunan.

Penutupan operasional SPPG Sukomulyo yang  terlihat sejak Minggu (8/6/2026) sore itu mengejutkan banyak pihak, terutama para pengurus lapangan hingga pekerja yang selama ini menggantungkan aktivitas sehari-harinya di lokasi tersebut.

Di balik berhentinya operasional layanan pemenuhan gizi tersebut, tersimpan persoalan rumah tangga yang disebut-sebut menjadi akar masalah.

Konflik internal keluarga pemilik lama diduga membuat manajemen keuangan SPPG menjadi kacau hingga berujung bangun dan asetnya  itu dipindah tangankan alias dijual.

Seorang pembeli baru bernama Sadak akhirnya mengambil alih bangunan tersebut setelah pemilik lama disebut tidak lagi mampu melunasi tanggungan utang bank yang jatuh tempo.

Sadak mengaku mengetahui persoalan tersebut setelah menghimpun informasi dari pihak SPPI (Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia). 

Menurutnya, operasional SPPG sebenarnya berjalan normal dan tetap menghasilkan pemasukan harian.
Namun di tengah perjalanan, muncul persoalan internal keluarga yang diduga berkaitan dengan pengelolaan uang operasional.

“Ada masalah internal . Nah, uang itu yang uang untuk kontrak, itu kan kontrak tiap harinya SPPG-nya itu. Nah itu masuk ke suaminya. Intinya ada problem rumah tangga,” ujar Sadak saat ditemui awak media di Lamongan, Selasa (9/6/2026).

Persoalan tersebut perlahan berdampak pada kondisi keuangan pemilik lama. Pemasukan yang seharusnya digunakan untuk membayar cicilan utang Rekening Koran (RK) di bank disebut tidak lagi bisa dikelola dengan baik.

Di tengah tekanan ekonomi dan konflik rumah tangga yang terus membesar, pemilik lama disebut sempat berupaya mencari jalan keluar. 

Ia bahkan dikabarkan pernah meminta bantuan kepada yayasan yang menaungi SPPG agar operasional tetap bisa berjalan dan persoalan keuangan mendapat solusi.
Namun harapan itu tak kunjung menemukan titik terang.

“Karena tidak ada pemasukan. Bahkan sempat mengadu ke yayasan kalau gak salah waktu itu, tapi tidak ada tanggapan. Makanya dijual ke saya untuk bayar utang,” lanjut Sadak.

Keputusan menjual bangunan senilai Rp 1,5 miliar itu pun akhirnya menjadi jalan terakhir untuk menyelesaikan beban utang yang menumpuk.

Penutupan mendadak tersebut rupanya juga meninggalkan kepanikan di kalangan pengurus SPPI. Sebab sehari sebelum bangunan disegel, mereka sudah telanjur membelanjakan berbagai bahan makanan untuk kebutuhan operasional hari Senin.

Beberapa pengurus bahkan sempat meminta tambahan waktu selama dua minggu kepada Sadak agar bahan makanan yang sudah dibeli tidak terbuang sia-sia. 

Namun setelah dilakukan pertemuan langsung, permohonan tersebut akhirnya dicabut dan mereka memilih menerima keputusan penyegelan.

Kini bangunan SPPG Sukomulyo tampak lengang. Aktivitas memasak berhenti total, tidak ada lagi lalu lalang distribusi makanan maupun kesibukan para pekerja seperti biasanya.

Meski demikian, Sadak memastikan dirinya tidak berniat menghentikan fungsi bangunan tersebut. Ia mengaku tetap berkomitmen mengoperasikan kembali tempat itu sebagai fasilitas SPPG agar pelayanan pemenuhan gizi masyarakat bisa kembali berjalan.

“Tetap akan difungsikan lagi sebagai SPPG. Harapannya pelayanan untuk masyarakat tetap berjalan,” pungkasnya. ham