Bondowoso, PANDANGANRAKYAT.COM – Kelompok tani di Desa Kalianyar, Kecamatan Ijen, Bondowoso, kini didampingi Universitas Negeri Surabaya (Unesa) untuk memperkuat rantai pasok hasil pertanian, mulai dari menjaga kualitas panen hingga membuka peluang akses pasar yang lebih baik.
Kegiatan International Community Development (ICD) Universitas Negeri Surabaya (UNESA) ini diarahkan untuk memperkuat rantai pasok pertanian sekaligus mendukung ketahanan pangan dan perekonomian masyarakat desa.
Pendampingan yang digelar pada 20-21 Juli 2026 tersebut merupakan tindak lanjut dari pelatihan yang telah dilaksanakan pada 5-7 Februari 2026. Program ini dikaitkan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 2 tentang Tanpa Kelaparan serta SDG 8 tentang Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi.
Dalam kegiatan tersebut, Tim ICD UNESA bersama petani meninjau kembali alur hasil pertanian sejak dari lahan hingga sampai kepada pembeli. Sejumlah aspek dibahas, mulai dari kualitas produk, pengelompokan hasil panen, kontinuitas produksi, komunikasi antarpetani, kendala distribusi, hingga peluang memperkuat posisi petani ketika berhadapan dengan pasar.
Pendampingan itu diarahkan agar pemahaman mengenai rantai pasok tidak berhenti pada materi pelatihan. Konsep tersebut diterapkan dengan menyesuaikan kondisi dan persoalan yang dihadapi petani di Desa Kalianyar.
Ketua Pelaksana ICD UNESA, Dr. Mufarrihul Hazin, M.Pd., mengatakan keberlanjutan menjadi salah satu ukuran penting keberhasilan pendampingan. Menurut dia, pelatihan harus dilanjutkan dengan penerapan di lapangan agar masyarakat mampu menyelesaikan persoalan secara mandiri.
“Pelatihan memberikan dasar pengetahuan, tetapi keberhasilan program justru terlihat ketika masyarakat mampu menggunakannya untuk menjawab persoalan yang mereka hadapi. Karena itu, kami kembali untuk berdiskusi, melihat praktik di lapangan, dan bersama-sama mencari langkah yang dapat dilanjutkan petani secara mandiri,” ujarnya.
Dukungan pemerintah daerah juga diperlukan karena persoalan pertanian tidak hanya berkaitan dengan proses produksi. Kualitas hasil panen, distribusi, hingga akses terhadap pasar turut menentukan keberlanjutan usaha petani.
Perwakilan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Bondowoso, Kusmiati, S.P., M.M., mengatakan pendampingan dapat membantu memetakan kebutuhan petani secara lebih konkret.
“Petani tidak hanya berhadapan dengan persoalan produksi, tetapi juga kualitas, distribusi dan akses pasar. Pendampingan seperti ini dapat menjadi ruang untuk memetakan kebutuhan nyata petani sehingga langkah pengembangan berikutnya dapat dilakukan secara lebih terarah,” katanya.
Dari sisi akademik, Ahmad Abdullah Zawawi menilai pengelolaan rantai pasok perlu dimulai dari persoalan yang dekat dengan kehidupan petani. Pemahaman tersebut mencakup upaya menjaga mutu hasil pertanian, memperlancar pertukaran informasi, serta mengelola distribusi.
“Pemahaman mengenai rantai pasok perlu dibangun dari hal-hal yang dekat dengan petani: bagaimana produk dijaga mutunya, bagaimana informasi antarpetani dibagikan, dan bagaimana distribusi dapat dikelola lebih baik. Tantangannya tentu berbeda di setiap tempat, sehingga solusi perlu disusun bersama masyarakat,” jelasnya.
Sementara itu, Ketua Kelompok Petani, Arif, melihat keberadaan kelompok sebagai wadah untuk mengatasi berbagai persoalan secara bersama-sama. Kelompok tersebut diharapkan menjadi ruang berbagi informasi dan pengalaman antarp etani.
“Kami berharap kelompok ini bisa menjadi tempat untuk saling berbagi informasi dan pengalaman. Kalau ada persoalan mengenai hasil panen, kualitas, distribusi atau pemasaran, kami bisa membicarakannya bersama dan mencari jalan keluar yang lebih baik,” ujarnya.
Melalui penguatan kelompok, modul pelatihan, dan pendampingan di lapangan, petani diharapkan dapat meningkatkan penjagaan mutu hasil panen, memperbaiki alur informasi, serta membangun koordinasi distribusi secara bertahap. ham

