Kementerian Pertanian mengimbau petani memanfaatkan varietas padi adaptif guna menjaga produktivitas pertanian di tengah potensi musim kemarau yang diprediksi datang lebih awal.

pandanganrakyat.com – Kementerian Pertanian Republik Indonesia mendorong para petani di berbagai daerah untuk memanfaatkan varietas padi yang lebih adaptif terhadap kondisi kekeringan. Langkah ini diambil sebagai upaya antisipasi terhadap potensi musim kemarau yang diperkirakan datang lebih awal pada tahun 2026.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menginstruksikan pemerintah daerah agar segera melakukan berbagai langkah pencegahan guna meminimalkan dampak kekeringan terhadap sektor pertanian. Upaya tersebut meliputi pemetaan wilayah rawan kekeringan hingga penguatan sistem peringatan dini atau early warning system.

Menurut Amran, petani disarankan memanfaatkan varietas padi genjah dan tahan kekeringan agar produksi tetap terjaga meskipun menghadapi keterbatasan air. Beberapa varietas yang direkomendasikan di antaranya Inpago 4 hingga Inpago 13, Inpari 38 sampai Inpari 46, serta varietas lain seperti Situbagendit, Situpatenggang, Padjadjaran, dan Cakrabuana.

Selain penggunaan varietas adaptif, pemerintah juga mendorong optimalisasi pengelolaan sumber daya air melalui berbagai langkah teknis, seperti peningkatan sistem irigasi, program pompanisasi, pembangunan jaringan perpipaan, serta percepatan masa tanam di sejumlah sentra produksi padi nasional.

Sementara itu, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika memprediksi sejumlah wilayah di Indonesia berpotensi mengalami awal musim kemarau lebih cepat. Wilayah yang diperkirakan terdampak antara lain sebagian daerah di Sumatra, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan bagian selatan dan timur, sebagian besar Sulawesi, Maluku, hingga beberapa wilayah Papua.

Kondisi tersebut dinilai berpotensi meningkatkan risiko kekeringan pada lahan pertanian apabila tidak diantisipasi sejak dini. Oleh karena itu, pemerintah menilai langkah adaptasi teknologi pertanian menjadi salah satu strategi penting untuk menjaga stabilitas produksi pangan nasional.

Kepala Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian, Fadjry Djufry, menjelaskan bahwa Kementerian Pertanian telah mengembangkan berbagai varietas padi unggul yang dirancang mampu berproduksi meskipun berada pada kondisi ketersediaan air terbatas.

Menurutnya, varietas padi tahan cekaman kekeringan seperti kelompok Inpari 38 hingga Inpari 46 serta varietas padi gogo dari kelompok Inpago memiliki kemampuan beradaptasi di lahan dengan tingkat kelembapan rendah. Selain itu, terdapat pula varietas genjah seperti Padjadjaran dan Cakrabuana yang memiliki umur panen lebih singkat sehingga dapat membantu tanaman menghindari periode puncak kekeringan.

Fadjry menambahkan, pemanfaatan varietas adaptif tersebut merupakan bagian dari strategi teknologi pertanian yang terus dikembangkan pemerintah untuk memperkuat ketahanan sistem produksi padi di tengah dinamika perubahan iklim.

Melalui pemanfaatan varietas unggul serta penerapan teknologi budidaya yang tepat di tingkat petani, pemerintah berharap produksi padi nasional dapat tetap terjaga dan ketahanan pangan Indonesia semakin kuat menghadapi tantangan perubahan iklim global.