Jakarta, PANDANGANRAKYAT.COM – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyampaikan sejumlah rekomendasi untuk menghadapi fenomena iklim El Nino yang diperkirakan berkembang ke level sangat kuat dan memicu kemarau yang lebih kering dan panjang di Indonesia.
Dalam rapat terbatas Penanganan Cuaca Ekstrem dan Penanganan Bencana yang dipimpin Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto di Istana Merdeka, Jakarta, Selasa (28/7/2026), Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani mengemukakan prakiraan BMKG bahwa puncak musim kemarau 2026 umumnya terjadi pada Agustus dengan persentase 48,84%, kemudian berlanjut pada September sebesar 25,41%.
“Antisipasi kemarau yang bersamaan dengan El Nino di tahun ini ada dua fokus utama. Pertama, terkait dengan ketersediaan air melalui pengisian waduk-waduk dengan metode modifikasi cuaca dan lain sebagainya. Kedua, untuk mengantisipasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melalui pembasahan pada lahan-lahan yang rentan atau sudah terbakar,” ujar Faisal, dikutip dari siaran pers, Rabu (29/7/2026).
BMKG juga menyampaikan sejumlah rekomendasi antisipasi dampak El Nino pada berbagai sektor. Pada sektor pengelolaan lahan, BMKG mendorong penguatan pemantauan titik panas (hotspot), patroli terpadu, pembasahan lahan gambut, pembangunan sekat kanal, serta penegakan hukum terhadap pembakaran lahan.
Di sektor kesehatan, BMKG merekomendasikan peningkatan pemantauan kualitas udara, penguatan sistem prediksi dan peringatan dini berbasis konsentrasi PM2.5, penguatan kapasitas fasilitas kesehatan, serta pemantauan peningkatan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).
Sementara itu, pada sektor pangan dan pertanian, BMKG mendorong percepatan waktu tanam sebelum periode defisit air mencapai puncaknya, penggunaan varietas tanaman berumur genjah, prioritas distribusi air pada fase kritis pertumbuhan tanaman, serta pembatasan ekspansi pertanian di wilayah yang sangat rentan terhadap kekeringan.
Di sektor ekonomi, BMKG merekomendasikan penguatan langkah antisipasi inflasi pangan melalui pemanfaatan informasi prediksi musim dalam perencanaan ekonomi, penguatan sistem pemantauan harga dan produksi, serta peningkatan koordinasi kebijakan ekonomi dan ketahanan pangan. Adapun pada sektor energi, BMKG mendorong pengelolaan waduk yang mengacu pada informasi prediksi cuaca dan iklim agar ketersediaan air dapat dimanfaatkan secara optimal untuk mendukung kebutuhan pembangkit listrik, irigasi pertanian, dan konsumsi masyarakat.
Diversifikasi sumber energi melalui optimalisasi PLTG, PLTU, serta pemanfaatan energi surya dan angin juga menjadi bagian dari strategi adaptasi menghadapi musim kemarau dan El Nino. ham

